Vinblastine adalah obat kemoterapi yang digunakan untuk mengobati beberapa jenis kanker anak tertentu, seperti limfoma Hodgkin, tumor otak derajat rendah (low-grade glioma), dan Langerhans Cell Histiocytosis (LCH).
Obat ini bekerja dengan menghambat proses pembelahan sel kanker, sehingga pertumbuhan dan penyebaran sel kanker dapat dikendalikan. Biasanya vinblastine diberikan dalam kombinasi dengan obat kemoterapi lain.
Bagaimana Cara Pemberiannya?
- Vinblastine diberikan melalui infus pembuluh darah (intravena/IV).
- Dapat diberikan sebagai suntikan perlahan selama beberapa menit atau sebagai infus singkat sesuai protokol terapi
⚠️ Penting! Segera beritahu perawat atau dokter jika anak merasakan panas, perih, atau nyeri di area infus. Jika obat keluar dari pembuluh darah (ekstravasasi), dapat menyebabkan iritasi jaringan.
⚠️ Obat ini tidak boleh diberikan melalui suntikan ke tulang punggung (intratekal) karena dapat menyebabkan komplikasi yang sangat serius.
Pemantauan Selama Pengobatan
Selama terapi, anak akan menjalani pemeriksaan rutin untuk memantau:
- Jumlah sel darah: hematologi lengkap
- Fungsi hati dan ginjal
- Kondisi umum anak
Pemeriksaan ini penting untuk memastikan terapi tetap aman.
Efek Samping yang Mungkin Terjadi
Tidak semua anak mengalami efek samping. Beberapa efek yang dapat terjadi antara lain:
Efek pada Saluran Cerna
- Sembelit
- Nyeri atau kram perut
- Mual dan muntah
- Nafsu makan menurun
Efek pada Darah
- Penurunan sel darah putih → meningkatkan risiko infeksi
- Penurunan sel darah merah → anak tampak pucat atau lelah
- Penurunan trombosit → mudah memar atau berdarah
Efek pada Saraf (Biasanya Ringan)
- Kesemutan atau kebas pada tangan/kaki (neuropati)
- Nyeri rahang
- Lemas ringan
Efek Lain yang Lebih Jarang
- Rambut rontok ringan
- Ruam atau iritasi di area suntikan
- Kadar natrium rendah dalam darah (jarang terjadi)
Tips untuk Orang Tua
Karena vinblastine dapat menurunkan sel darah putih, anak lebih mudah terkena infeksi.
Segera hubungi dokter jika anak mengalami: demam (≥ 38°C), menggigil, tampak sangat lemas, sembelit/sulit BAB hingga nyeri perut, batuk berat atau sulit bernapas. Jangan menunda pemeriksaan bila anak demam.
Catat keluhan yang muncul setelah kemoterapi dan sampaikan saat kontrol berikutnya. Jangan ragu bertanya jika ada hal yang tidak dipahami.