Vaksin HPV, Mencegah Kanker Leher Rahim Demi Mewujudkan Generasi Sehat


Vaksin HPV, Mencegah Kanker Leher Rahim Demi Mewujudkan Generasi Sehat

Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah memberikan rekomendasi penting kepada negara-negara untuk memasukkan vaksin Human Papillomavirus (HPV) ke dalam program imunisasi nasional. Imunisasi HPV bertujuan untuk mengurangi risiko terinfeksi kanker leher rahim atau serviks, yang merupakan kanker tertinggi kedua di Indonesia setelah kanker payudara pada perempuan. 

Adapun tujuan dari program  imunisasi ini adalah mencapai cakupan sebanyak 90% pada anak perempuan dan laki-laki sebelum usia 15 tahun di tahun 2030. Pencapaian ini akan menjadi tonggak penting dalam upaya pencegahan kanker leher rahim, yang merupakan ancaman kesehatan serius pada perempuan.

 

BACA: Apa itu Kanker Serviks

 

Apa Itu Vaksin HPV?

Vaksin HPV merupakan vaksin yang diberikan untuk melindungi anak perempuan dan laki-laki dari risiko terinfeksi virus HPV (Human Papillomavirus), penyebab utama kanker leher rahim atau serviks. Jenis virus HPV tertentu dapat menyebabkan kanker lain di area kulit, kelamin, bahkan tenggorokan. Namun, pemberian vaksin saja tidak cukup, jika tidak disertai dengan edukasi perilaku serta informasi yang komprehensif mengenai skrining, diagnosis, dan tata laksana penyakit ini. Pendekatan ini membantu membangun pemahaman yang lebih baik tentang pencegahan dan penanganan kanker leher rahim.

Dengan tujuan menurunkan angka kanker leher rahim menjadi 4 per 100.000 penduduk per tahun pada tahun 2030, sasaran utama program ini adalah anak perempuan dan lakl-laki berusia 11 tahun. Cakupan program imunisasi HPV yang luas akan menjadi kunci keberhasilan dalam upaya mengurangi beban penyakit, serta melindungi generasi mendatang dari risiko masalah kesehatan serius.

 

Upaya Skrining dan Vaksinasi

Komponen penting dalam pencegahan kanker leher rahim adalah skrining. Melalui skrining, kita dapat mengidentifikasi penyakit ini lebih awal serta memberikan penanganan yang tepat. 

Badan Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan vaksin HPV diberikan pada sasaran anak perempuan dan laki-laki mulai usia 11 9 tahun dengan dosis sebagai berikut:

 

Anak dan Remaja

  • Satu dosis bagi anak perempuan usia 11 tahun (imunisasi rutin) dan imunisasi kejar pada anak usia 12 tahun dan 15 tahun

  • Satu dosis bagi anak laki-laki usia 11 tahun (imunisasi rutin) yang diperluas secara bertahap dan imunisasi kejar pada anak laki - laki usia 12 tahun pada daerah yang telah melakukan pemberian imunisasi HPV dosis pertama

Dewasa

  • Perempuan usia 20 tahun yang merupakan kohort baru (mulai 2027)

  • Imunisasi kejar perempuan berusia 21 hingga 25 tahun (2027-2030)

 

Pemberian vaksin HPV tidak disarankan bagi perempuan berusia di atas 26 tahun. Walaupun ada pula perempuan dalam rentang usia 27-45 tahun yang meminta rekomendasi dokter untuk melakukan imunisasi HPV. Namun, manfaatnya tidak sebesar perempuan berusia di bawah 26 tahun, karena biasanya mereka sudah terpapar virus HPV.

Selain kelompok usia di atas, kelompok ini juga tidak disarankan untuk mendapatkan vaksin HPV, yaitu orang-orang yang:

  • Pernah mengalami reaksi alergi yang serius, terhadap vaksin HPV atau kandungan yang terdapat dalam vaksin. 
  • Memiliki alergi pada ragi (Gardasil dan Gardasil 9).
  • Sedang hamil
  • Sedang mengalami sakit yang cukup serius. Imunisasi aman dilakukan pada orang yang tidak mengalami demam walaupun ada sedikit batuk dan pilek.

Efek Samping Vaksinasi HPV 

Efek samping  Imunisasi HPV hampir tidak ada, kecuali bagi mereka yang memiliki alergi terhadap kandungan dalam vaksin, seperti yang telah dijelaskan di atas. Kalaupun ada efek samping, gejala yang dialami tidak serius, seperti demam ringan, gatal atau memar di area suntikan, nyeri otot atau sakit kepala. Segera periksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan jika mengalami efek samping yang cukup serius setelah melakukan Imunisasi.  

Prosedur Mendapatkan Vaksin

Imunisasi HPV tidak bisa dilakukan kapan saja oleh siapa saja. Berikut adalah prosedur untuk mendapatkan vaksin HPV diluar program imunisasi nasional.

  • Konsultasikan terlebih dahulu kepada dokter kandungan atau tenaga kesehatan mengenai penjadwalan dan vaksin yang cocok untuk penerima.
  • Dokter akan mengecek riwayat kesehatan Anda, termasuk ada tidaknya alergi serta riwayat kehamilan.
  • Setelah itu, dokter akan menentukan dosis yang tepat dan aman, serta melakukan penjadwalan vaksinasi HPV. 

 

Kebijakan dan Strategi Pelaksanaan Imunisasi HPV

Kementerian Kesehatan RI merekomendasikan pemberian imunisasi HPV cukup satu dosis jika diberikan sebelum usia 20 tahun. Untuk perlindungan yang optimal, maka Indonesia memberikan imunisasi HPV pada anak kelas 5 SD/MI atau anak usia 11 tahun untuk yang tidak sekolah formal.

Imunisasi HPV diberikan secara GRATIS bagi peserta didik di sekolah-sekolah dalam rangkaian program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) pada bulan Agustus setiap tahunnya. Untuk anak di luar sekolah bisa mendapatkan Imunisasi HPV secara GRATIS di Puskesmas ataupun Pos Imunisasi lainnya.

Berbagai studi kesehatan menunjukkan bahwa vaksin ini memberikan perlindungan hampir 100% terhadap tipe virus HPV berisiko tinggi jika diberikan sejak dini, dan efektivitasnya mampu bertahan hingga lebih dari 10 tahun setelah imunisasi. Keberhasilan program ini diharapkan mampu menurunkan angka terjadinya kutil kelamin (genital warts) dalam jangka pendek, dan mengurangi prevalensi kanker serviks dalam jangka panjang.

Dengan vaksin yang terbukti aman dan efektif serta dukungan penuh dari semua pihak, Kementerian Kesehatan RI berkomitmen untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat Kanker Leher Rahim demi mewujudkan generasi sehat dan terbebas dari ancaman kanker leher rahim.

 

BACA: Pertanyaan Umum Seputar Imunisasi HPV

"Kementerian Kesehatan RI berkomitmen untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat Kanker Leher Rahim demi mewujudkan generasi sehat dan terbebas dari ancaman kanker leher rahim."

Kalender

Artikel Terkait