Nutrisi Presisi, Indonesia Jaya


Nutrisi Presisi, Indonesia Jaya

Indonesia yang kuat bukan hanya ditopang pangan yang cukup, tetapi oleh kemampuan membaca keragaman respons biologis warganya dan menerjemahkannya menjadi tindakan gizi yang tepat sasaran. Dari sini, narasi perlu “turun” ke level paling personal—ke tubuh manusia itu sendiri—karena di sanalah janji gizi presisi diuji. Apakah kebijakan dan sains benar-benar mampu menyentuh realitas metabolisme, hormon, imun, mikrobiota, dan ritme hidup yang berbeda pada tiap individu? Itulah alasan kita memulai dengan metafora yang dekat namun ilmiah. Tubuh sebagai kota biologis. Makanan sebagai Bahasa. Ketika Indonesia ingin maju melalui pembangunan SDM, peta besarnya selalu bermula dari komunikasi paling dasar antara apa yang kita konsumsi dan bagaimana sel kita meresponsnya.

 

Kota Biologis, Bahasa Makanan

Anggaplah tubuh manusia sebagai sebuah “kota” biologis yang hidup—bukan kota yang diam di peta, melainkan kota yang terus berubah dari menit ke menit. Ada jalan raya metabolisme tempat glukosa, asam lemak, asam amino, dan mikronutrien berlalu-lalang seperti logistik yang tak pernah berhenti. Ada lampu lalu lintas hormon—insulin, leptin, kortisol, hormon tiroid—yang mengatur kapan sel menyimpan energi, kapan membakarnya, kapan ia harus “berhemat” karena stres, dan kapan ia bisa membangun. Ada pembangkit listrik mitokondria yang bekerja seperti PLN internal, memproduksi ATP dari bahan baku yang masuk lewat makan dan minum. Ada pasukan keamanan imun yang berjaga 24 jam, menilai mana “tamu baik” dan mana ancaman. Ada unit perbaikan jaringan—regenerasi, autophagy, pembentukan protein—yang diam-diam menambal kerusakan kecil sebelum ia menjadi masalah besar.

Dalam kota biologis ini, makanan bukan lagi sekadar bahan bakar pasif. Ia adalah bahasa: serangkaian sinyal molekuler yang berbicara langsung ke inti sel—ke jaringan saraf, ke adiposit, ke hati, ke dinding pembuluh darah, bahkan ke mikroba yang hidup berdampingan di usus. Setiap suapan membawa “instruksi” yang bisa memperkuat pertahanan, menenangkan inflamasi, memperbaiki kerusakan, atau—bila salah konteks—justru menekan tombol biologis yang mengarah pada resistensi insulin, dislipidemia, dan hipertensi. Paradigma ini terasa makin relevan ketika Indonesia menghadapi beban gizi triple (triple burden malnutrition). Maksudnya, stunting dan anemia yang belum tuntas, sementara obesitas dan penyakit metabolik meningkat cepat.

Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 memotret kerumitan itu dengan gamblang: prevalensi stunting pada balita masih 15,8%; pada kelompok balita yang sama, gizi lebih dan obesitas ada di angka 4,2%; lalu pada anak usia 5–12 tahun, obesitas melonjak menjadi 7,8%. Di lapangan, masalah ini tidak datang sendiri-sendiri—ia datang sebagai paket. Di satu rumah, ada ibu hamil dengan anemia; di rumah sebelah, ada anak SD dengan obesitas; di rumah lain, ada ayah dengan hipertensi dan gula darah yang mulai sulit jinak. Maka “satu resep untuk semua”—sekadar slogan “kurangi gula” atau “makan lebih banyak”—terasa makin kedodoran. Tubuh manusia bukan mesin fotokopi yang identic. Respons biologisnya punya sidik jari. Yang dibutuhkan adalah strategi yang lebih cerdas. Maksudnya, makanan yang tepat, untuk orang yang tepat, pada waktu yang tepat. Di sinilah gizi presisi (precision nutrition) masuk sebagai cara berpikir baru—sebuah jembatan antara biologi molekuler, genetika, mikrobiota, dan data kesehatan untuk membangun Generasi Emas Indonesia yang bukan hanya besar jumlahnya, tetapi kuat fondasi biologisnya.

 

Dari Peta Gen ke Nada Ekspresi

Gizi presisi berdiri di atas dua pilar yang sering terdengar mirip, tetapi sebenarnya menjawab dua pertanyaan yang berbeda, yakni: nutrigenetik dan nutrigenomik. Bedanya halus, namun dampaknya besar—seperti membedakan peta jalan dengan musik yang dimainkan kendaraan di jalan itu.

 

Nutrigenetik: Peta Respons Sejak Lahir

Nutrigenetik bekerja seperti “peta respons” yang sudah kita bawa sejak lahir: ia mempelajari bagaimana variasi genetik bawaan—paling sering berupa Single Nucleotide Polymorphism (SNP)—membentuk cara tubuh menangkap, mengolah, dan “bereaksi” terhadap pola makan tertentu, sehingga dua orang yang menjalani diet identik bisa berakhir dengan hasil yang sangat berbeda. Dalam kacamata nutrigenetik, makanan bukan hanya soal apa yang masuk ke piring, tetapi juga tentang bagaimana tubuh punya perangkat biologis yang berbeda untuk memprosesnya: ada individu yang lebih “sensitif” terhadap jenis lemak tertentu, ada yang lebih rentan terhadap perubahan profil lipid, ada yang lebih mudah mengalami gangguan metabolik ketika paparan nutrisi bertemu dengan kerentanan genetiknya. Contoh yang sering dibahas adalah variasi pada gen LDLR (rs688) yang terkait dengan metabolisme kolesterol; pada sebagian orang, komposisi lemak—terutama lemak jenuh—lebih mudah mengganggu profil lipid, seolah jalur transport dan pembersihan kolesterolnya lebih cepat kewalahan ketika beban lemak berubah. Pada sisi lain, polimorfisme pada vitamin D binding protein (VDBP) dapat memengaruhi status dan fungsi vitamin D di tubuh, yang kemudian beresonansi pada jalur metabolik dan inflamasi, sehingga pada kelompok tertentu risikonya dapat terhubung dengan spektrum sindrom metabolik. Intinya, nutrigenetik menggeser cara pikir dari “diet universal” menjadi “diet yang mempertimbangkan kerentanan”: rekomendasi yang terlihat aman untuk semua orang bisa menjadi kurang optimal—bahkan kontra-produktif—pada individu tertentu, bukan karena mereka “tidak disiplin”, melainkan karena peta biologisnya memang berbeda, dan peta itu menentukan rute tercepat menuju sehat atau menuju masalah ketika pilihan makan diulang setiap hari.

 

Nutrigenomik: Saklar Biologis yang Dikendalikan oleh Nutrien

Nutrigenomik membahas sisi paling “hidup” dari hubungan makanan dan tubuh: jika nutrigenetik menjelaskan kecenderungan yang kita bawa sejak lahir, maka nutrigenomik menjelaskan bagaimana makanan—melalui nutrien dan metabolitnya—secara aktif mengatur cara gen dibaca, diterjemahkan, dan dieksekusi dari jam ke jam, bahkan dari hari ke hari, seperti panel kontrol biologis yang terus menyesuaikan setelan sesuai kondisi. Dalam kerangka ini, makanan tidak berhenti sebagai kalori, tetapi berubah menjadi sinyal molekuler: sebagian nutrien dapat bertindak sebagai ligan yang berinteraksi dengan reseptor faktor transkripsi (misalnya pada jaringan metabolik seperti hati, otot, dan adiposa), sehingga “menyalakan” atau “meredupkan” program gen tertentu; sebagian lain memengaruhi jalur pensinyalan seluler—misalnya jalur yang terkait sensing energi, inflamasi, stres oksidatif, dan pertumbuhan—yang pada gilirannya mengubah keputusan sel apakah ia menyimpan energi, membakar, memperbaiki kerusakan, atau memicu respons imun. Di tingkat yang lebih dalam, nutrien juga dapat meninggalkan jejak epigenetik—perubahan pada metilasi DNA, modifikasi histon, dan arsitektur kromatin—yang tidak mengubah huruf kode genetik, tetapi mengubah “akses” terhadap gen: mana yang mudah dibuka, mana yang cenderung tertutup, dan seberapa keras sebuah gen diekspresikan. Rangkaian kontrol ini kemudian mengalir ke hilir (downstream): perubahan ekspresi gen membentuk perubahan protein, enzim, dan mediator biologis; perubahan protein menggeser profil metabolit; dan perubahan metabolit akhirnya tampak sebagai fenotipe klinis—misalnya variasi kadar glukosa postprandial, sensitivitas insulin, profil lipid, tekanan darah, hingga derajat inflamasi sistemik. Karena itu, gen dapat dipahami sebagai batas kemungkinan (apa yang “mungkin” terjadi), sedangkan makanan—bersama tidur, stres, aktivitas fisik, paparan lingkungan, dan ritme sirkadian—adalah pengarah dinamis (apa yang “sedang” terjadi dan ke mana tubuh bergerak), sehingga personalisasi gizi yang futuristik bukan lagi sekadar memilih diet berdasarkan tren, melainkan membangun keputusan berbasis state biologis yang dapat dipantau, dimodelkan, lalu diperbarui secara iteratif: tubuh menjadi sistem yang belajar, dan makanan menjadi instruksi yang dapat disetel presisi seiring waktu.

 

Mengapa Diet yang Sama Memicu Respons Berbeda?

Di klinik, perbedaan respons terhadap diet sering terasa “misterius” kalau kita hanya memakai kacamata kalori dan makro. Ada orang yang cepat turun berat badan dengan pembatasan karbohidrat; ada yang justru lemas dan makin ngidam. Ada yang profil lipidnya memburuk meski merasa “makannya biasa saja”; ada yang baik-baik saja.

Salah satu contoh yang relevan adalah respons terhadap diet tinggi lemak jenuh. Pada sebagian orang, diet ini dapat lebih cepat memicu resistensi insulin—cikal bakal diabetes tipe 2—yang bisa dipotret dengan indikator seperti HOMA-IR (Homeostatic Model Assessment for Insulin Resistance). Variasi pada gen ADIPOQ (rs266729) dan ADIPOR1 (rs10920533) disebut berperan dalam perbedaan respons tersebut, seolah tubuh memiliki “sensitivitas bawaan” yang membuat jalur metabolik tertentu lebih mudah tergelincir.

Ada juga studi intervensi menarik mengenai konsumsi kukis IMO (Fibercreme) 86 g/hari selama 4 minggu pada individu hiperlipidemia. Yang menonjol bukan hanya perbaikan parameter risiko kardiovaskular seperti rasio kolesterol total/HDL-C atau indeks aterogenik plasma, melainkan variabilitas respons yang bergantung pada genotipe—misalnya pada CETP rs708272 dan APOA5 rs662799. Pada titik ini, gizi presisi terasa bukan sebagai “kemewahan sains”, melainkan sebagai jawaban praktis atas pertanyaan lapangan: mengapa intervensi yang sama menghasilkan dampak yang tidak seragam?

Dalam kerangka kesehatan publik, temuan-temuan seperti ini mengingatkan bahwa program gizi berskala besar tetap bisa “ditingkatkan presisinya” tanpa kehilangan sifat populasi. Presisi bukan berarti semua orang harus dites genom hari ini; presisi juga bisa dimulai dari mengenali heterogenitas respons, menetapkan jalur pemantauan yang lebih rapat, dan membangun protokol adaptif yang berbasis data.

 

Mikrobiota Usus, Tak Terlihat Namun Ikut Menulis Nasib Metabolik

Mikrobiota usus adalah “organ tak terlihat” yang jarang disebut sebagai organ, padahal dampaknya setara pemain utama. Ia terdiri dari triliunan mikroba, dengan massa total yang bisa mencapai 1–2 kg, hidup dalam ekosistem yang padat, dinamis, dan sangat responsif terhadap apa yang kita makan. Mereka bukan penumpang pasif. Mereka mitra metabolik yang ikut menentukan bagaimana tubuh memanen energi, membangun pertahanan, dan menjaga kestabilan sistem.

Dalam kondisi seimbang, ekosistem ini berada pada fase eubiosis. Ia membantu mencerna serat yang tak bisa dipecah enzim manusia. Ia turut memproduksi vitamin tertentu, misalnya vitamin K dan sebagian vitamin B. Ia juga merawat “dinding pembatas” usus agar tidak bocor, sehingga molekul pemicu inflamasi tidak mudah menyeberang ke sirkulasi. Di saat yang sama, mikrobiota melatih sistem imun agar tegas pada ancaman, namun tidak reaktif berlebihan pada hal yang seharusnya aman.

Masalah muncul ketika keseimbangan bergeser menjadi disbiosis. Dampaknya tidak berhenti di perut, dan tidak selalu terasa sebagai keluhan pencernaan. Disbiosis dikaitkan dengan obesitas, sindrom metabolik, diabetes tipe 2, asma, alergi, sampai gangguan kesehatan mental. Polanya sering berulang dan bisa diringkas menjadi tiga simpul yang saling menguatkan. Barier usus melemah. Inflamasi tingkat rendah menjadi kronis. Metabolit mikroba berubah, lalu menggeser cara tubuh mengelola energi, gula darah, dan lemak.

Di titik ini, konsep prebiotik sering disalahpahami. Prebiotik bukan sinonim “semua serat”. Ia adalah substrat dengan kriteria yang ketat dan terukur. Struktur kimianya jelas. Ia tahan dicerna di usus halus, sehingga bisa mencapai kolon. Ia dimanfaatkan secara selektif oleh mikroba menguntungkan, seperti Bifidobacteria dan Lactobacilli. Ia terbukti mengubah komposisi mikrobiota dan memberi manfaat kesehatan yang bisa diukur, bukan sekadar klaim.

Indonesia sebenarnya punya modal biologis yang besar, namun sering dipandang hanya sebagai kekayaan kuliner. Biodiversitas pangan kita menyediakan banyak kandidat “prebiotic-like” yang bekerja lewat jalur polifenol. Rempah dan herbal tradisional membawa senyawa yang dapat diolah mikrobiota menjadi metabolit bioaktif. Madu lokal juga mengandung oligosakarida tertentu yang mampu mencapai kolon, lalu menjadi “makanan” bagi mikroba baik. Yang menarik, ini bukan sekadar cerita tradisi. Ini adalah pintu masuk sains untuk membangun intervensi yang relevan dengan konteks lokal.

Salah satu ujung biologis yang paling penting dari proses ini adalah produksi SCFAs (Short-Chain Fatty Acids): asetat, propionat, dan butirat. SCFAs menjadi sumber energi bagi sel usus, sehingga dinding usus tetap kuat dan fungsional. SCFAs membantu menenangkan inflamasi dan memodulasi sistem imun, sehingga respons tubuh lebih terarah. SCFAs juga ikut memengaruhi metabolisme sistemik, termasuk cara tubuh mengatur glukosa dan lipid. Jadi, ada jalur nyata dari “apa yang kita makan” menuju “bagaimana tubuh mengatur risiko”.

Dalam kerangka gizi presisi, mikrobiota mengingatkan kita pada hal yang sederhana namun futuristik. Personalisasi bukan hanya tentang gen manusia. Personalisasi juga tentang “gen kolektif” yang hidup bersama kita dan berubah sesuai kebiasaan harian. Di era data dan -omics, mikrobiota membuat piring makan terasa seperti panel kontrol yang lebih luas: bukan hanya mengisi energi, tetapi mengatur ekosistem internal yang ikut menulis nasib metabolik kita dari hari ke hari.

 

Stunting dan 1.000 Hari Pertama Kehidupan

Stunting sering direduksi menjadi angka di kartu menuju sehat, padahal ia adalah sinyal biologis yang jauh lebih dalam. Definisinya jelas, yaitu tinggi badan menurut umur (HAZ < -2 SD standar WHO), tetapi maknanya melampaui antropometri. Stunting adalah jejak dari kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang yang terjadi pada fase kehidupan yang paling menentukan. Ia meninggalkan dampak panjang yang tidak selalu terlihat hari ini, namun terasa bertahun-tahun kemudian.

Ketika pertumbuhan linier terganggu, yang terdampak bukan hanya tulang dan otot. Perkembangan otak ikut tertekan, terutama pada fase pembentukan koneksi saraf yang cepat dan sensitif. Kapasitas kognitif dapat menurun, dan kesempatan belajar menjadi tidak setara sejak awal. Di masa dewasa, risiko penyakit tidak menular cenderung meningkat, karena setelan metabolik sudah terbentuk dalam kondisi “bertahan hidup”. Pada akhirnya, stunting menjadi isu ketahanan SDM, bukan sekadar isu tinggi badan.

Karena itu, 1.000 Hari Pertama Kehidupan (1.000 HPK) menjadi pusat gravitasi intervensi. Rentangnya dimulai sejak konsepsi hingga anak berusia 2 tahun. Di fase ini, organ tumbuh cepat, jaringan sedang “dipahat”, dan banyak jalur biologis menetapkan set point. Tubuh sedang menulis “manual operasi” untuk metabolisme, imunitas, dan pertumbuhan. Intervensi yang tepat pada periode ini memberi efek yang menetap, dan efek penggandanya bisa memengaruhi kualitas generasi berikutnya.

Strategi modern tidak lagi puas dengan pendekatan generik yang seragam. Ia bergerak menuju presisi, karena risiko dan kebutuhan tiap ibu dan anak tidak identik. Tiga komponen utama saling mengunci dan harus berjalan bersama. Bila satu komponen lemah, hasil akhirnya sering tidak maksimal, meski komponen lain sudah kuat.

Komponen pertama adalah deteksi dini berbasis data. Pemantauan status gizi ibu hamil, berat badan lahir, dan perkembangan antropometri bayi bukan lagi formalitas administrasi. Ia adalah radar biologis yang menangkap deviasi sejak awal. Ketepatan waktu deteksi sering lebih menentukan daripada besarnya intervensi, karena perbaikan paling efektif terjadi sebelum defisit menjadi kronis. Di sinilah sistem pencatatan yang rapi dan pemantauan yang rutin berubah menjadi alat klinis yang nyata.

Komponen kedua adalah intervensi personalisasi untuk ibu dan anak. Fokus utamanya adalah kecukupan protein hewani berkualitas—telur, ikan, daging, susu—karena ia membawa asam amino esensial dan faktor pertumbuhan yang relevan untuk jaringan yang sedang dibangun. Koreksi defisiensi mikronutrien spesifik seperti zat besi, zinc, dan vitamin A menjadi kunci, karena “kekurangan tersembunyi” sering menghambat pertumbuhan meski kalori tampak cukup. Personalisasi juga berarti konseling perilaku makan yang realistis, sesuai konteks keluarga. Ketersediaan pangan, budaya, pola kerja orang tua, sampai kebiasaan belanja rumah tangga harus masuk dalam desain intervensi, bukan diperlakukan sebagai catatan kaki.

Komponen ketiga adalah tata laksana holistik terintegrasi. Gizi tidak bisa menang sendirian bila lingkungan terus menularkan infeksi. Program WASH—air bersih, sanitasi, dan higiene—adalah bagian biologis dari strategi, karena infeksi berulang menguras nutrisi dan mengganggu penyerapan. Kunjungan rumah, layanan primer yang kolaboratif, dan edukasi yang diulang menjadi satu paket untuk memastikan intervensi benar-benar terjadi, bukan hanya tertulis. Dalam kerangka presisi, audit ekuitas wajib melekat, agar pendekatan berbasis data tidak berubah menjadi layanan eksklusif. Presisi yang sehat adalah presisi yang inklusif, yang membuat anak paling rentan justru paling cepat terlihat dan paling dulu dibantu.

 

Mesin Skala Nasional yang Perlu Kemudi Presisi

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diluncurkan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto adalah momentum kebijakan yang jarang datang dua kali. Skala programnya besar. Sasarannya luas. Peserta didik. Balita. Ibu hamil. Ibu menyusui. Pedoman resminya menekankan menu berbasis pangan lokal dan keragaman pangan. Ini langkah strategis. Ini bisa mengangkat kualitas gizi. Ini juga bisa menggerakkan ekonomi pangan daerah. Jika tata kelolanya kuat.

Namun skala besar selalu punya dua wajah. Jangkauan yang luas. Kompleksitas yang berat. Tantangannya bukan hanya “apa isi piringnya”. Tantangannya juga “bagaimana piring itu sampai dengan aman”. Rantai pasok harus rapi. Dapur harus higienis. Proses harus standar. Tenaga harus terlatih. Akuntabilitas harus jelas. Dari kota sampai pelosok. Insiden KLB yang pernah muncul di beberapa lokasi menjadi alarm keras. MBG tidak boleh dipahami sebagai proyek bagi-bagi makanan. MBG harus dipahami sebagai sistem. Sistem yang menuntut disiplin. Sistem yang menuntut mutu.

Pemerintah merespons dengan penguatan tata kelola. Ini langkah yang tepat. Termasuk kewajiban Sertifikat Laik Higiene dan Sanitasi (SLHS) bagi Satuan Penyedia Pangan Gizi (SPPG). Karena keamanan pangan adalah fondasi. Tanpa fondasi ini, program sebesar apa pun rapuh. Sekali terjadi insiden, kepercayaan publik bisa runtuh. Dan dampaknya bisa panjang. Maka, standar kebersihan dan sanitasi bukan formalitas. Itu garis pertahanan pertama.

Di titik ini, MBG punya peluang naik kelas. Dari program pangan. Menjadi mesin pembangunan SDM. Caranya bukan menambah kerumitan. Caranya menambah ketepatan. Integrasi gizi presisi bisa menjadi nilai tambah yang nyata. Bukan dalam bentuk jargon. Dalam bentuk keputusan yang lebih tepat sasaran. Dalam bentuk perbaikan yang terukur. Dalam bentuk program yang bisa belajar dari data.

Pertama, profil mikronutrien yang lebih tajam. Menu tidak hanya menutup kalori. Menu harus mengejar kepadatan zat gizi. Zat besi. Zinc. Vitamin A. Folat. Protein berkualitas. Ini komponen yang sering “tak terlihat”. Namun dampaknya besar. Ia menentukan anemia. Ia menentukan daya tahan tubuh. Ia menentukan tumbuh kembang. Dengan fokus mikronutrien, MBG tidak sekadar mengenyangkan. MBG memperbaiki kualitas biologis.

Kedua, pemanfaatan potensi prebiotik lokal. Ini bukan sekadar menambah “serat”. Ini soal memberi bahan bakar untuk mikrobiota yang sehat. Ini soal mendukung eubiosis. Ini soal mendorong produksi SCFAs. Ini soal imun yang lebih tangguh dari dalam. Pangan lokal punya banyak kandidat. Umbi. Kacang-kacangan. Pisang. Sayur tertentu. Fermentasi tradisional yang aman. Prinsipnya sederhana. Yang lokal. Yang terjangkau. Yang sesuai budaya. Yang terukur manfaatnya.

Ketiga, pemantauan respons dengan indikator sederhana namun rutin. Pedoman MBG sudah mengenal antropometri. Berat badan. Tinggi badan. Lingkar lengan. Ini sudah bagus. Masalahnya sering ada pada disiplin pelaksanaan. Jika pengukuran dilakukan teratur, datanya menjadi kompas. Siapa yang responsnya bagus. Siapa yang stagnan. Siapa yang justru menurun. Lalu keputusan bisa lebih cepat. Intervensi bisa disesuaikan. Edukasi bisa diperkuat. Suplemen bisa ditargetkan. Rujukan bisa dipercepat bila perlu.

Inilah inti “presisi operasional”. Presisi bukan berarti semua orang harus tes mahal. Presisi berarti deviasi terdeteksi lebih dini. Presisi berarti tindak lanjut lebih cepat. Presisi berarti program tidak menunggu masalah membesar. Presisi berarti sumber daya dipakai lebih cerdas. Dan dampaknya lebih adil, karena yang paling berisiko tidak tertinggal diam-diam.

MBG yang “belajar dari data” akan punya karakter yang berbeda. Ia tidak sekadar menghabiskan anggaran. Ia menguatkan hasil. Ia adaptif. Ia membaik dari waktu ke waktu. Ia mencatat. Ia mengevaluasi. Ia mengoreksi. Ia menjaga keamanan pangan sambil mengejar dampak gizi. Pada akhirnya, MBG bukan hanya soal piring hari ini. MBG adalah investasi untuk kapasitas manusia Indonesia besok.

 

Nutrigenomics 6.0: Saat Gizi Menjadi Sistem Kesehatan yang Terus Belajar

Di atas kertas, gizi presisi terdengar “wah”: gen, omics, mikrobiota, dan AI. Namun pertanyaan yang paling penting justru sederhana: apakah ini bisa dipakai di dunia nyata, di Puskesmas, di Posyandu, di rumah, bukan cuma di jurnal? Nutrigenomics 6.0 menjawab dengan cara yang pragmatis. Ia memperlakukan gizi presisi sebagai learning health system: sistem kesehatan yang terus belajar dari data, lalu terus memperbaiki keputusan. Rumus intinya ringkas dan mudah diingat: genotipe × keadaan biologis (fenotipe) × paparan lingkungan × waktu. Artinya, rekomendasi gizi tidak boleh dipakukan sekali lalu dianggap berlaku selamanya. Tubuh berubah. Hidup berubah. Maka saran gizi juga harus bisa ikut berubah, berbasis bukti yang terus diperbarui.

Kerangka ini menolak dua ekstrem yang sama-sama merugikan. Ekstrem pertama: “semua orang harus tes genom sekarang juga.” Ini sering mahal, tidak selalu perlu, dan bisa membuat orang terjebak pada hasil yang belum tentu actionable. Ekstrem kedua: “terlalu rumit, lebih baik pakai cara lama saja.” Ini juga berbahaya karena membuat program gizi berjalan seperti autopilot: rapi di laporan, tapi sering gagal menangkap kenyataan tubuh manusia yang sangat beragam. Nutrigenomics 6.0 memilih jalan tengah yang kuat: mulai dari yang paling berdampak, ukur responsnya, lalu perbaiki rekomendasinya. Fokusnya bukan pada label “canggih”, tetapi pada satu hal yang sering hilang dari intervensi gizi: umpan balik objektif.

Di sinilah teknologi menjadi alat yang masuk akal, bukan pajangan. Banyak program gizi bertumpu pada ingatan makan yang bias dan mudah meleset. Nutrigenomics 6.0 mendorong pengukuran yang lebih jujur. CGM membantu melihat pola glukosa, bukan hanya angka puasa. Wearable menangkap aktivitas, tidur, dan stres fisiologis yang sering diam-diam mengacaukan metabolisme. HRV memberi petunjuk tentang keseimbangan sistem saraf otonom, yang terkait dengan pemulihan, beban stres, dan daya adaptasi tubuh. Multiomics—bila tersedia—dipakai secara berkala, bukan untuk mengejar sensasi “tes mahal”, tetapi untuk membaca perubahan biologis yang benar-benar relevan. Intinya tegas: gizi presisi bukan sekadar memilih makanan “yang katanya cocok”, melainkan menguji apakah tubuh benar-benar membaik setelah intervensi.

AI dan machine learning boleh masuk, tetapi tidak boleh liar. Nutrigenomics 6.0 memasang pagar ilmiah yang ketat. Korelasi tidak boleh disulap jadi sebab-akibat. Model harus divalidasi, bukan hanya terlihat bagus di satu dataset. Kinerja model harus diawasi karena drift itu nyata: pola populasi dan kebiasaan berubah, alat ukur berubah, data masuk berubah. Dan untuk rekomendasi yang sangat personal, pendekatan N-of-1 menjadi kunci: intervensi diuji berulang pada orang yang sama, sehingga perubahan yang terlihat lebih mungkin benar-benar akibat intervensi, bukan kebetulan, tren musiman, atau efek placebo. Di sini, “presisi” artinya bertanggung jawab, bukan sekadar rinci.

Kerangka ini juga nyambung ke arah besar Transformasi Kesehatan Indonesia, terutama penguatan layanan primer dan teknologi kesehatan. Layanan primer adalah lantai dasar yang paling realistis: skrining risiko, edukasi inti, pemantauan pertumbuhan, dan tindak lanjut yang konsisten. Puskesmas, Posyandu, dan jejaring kader bisa menjadi mesin utama karena mereka paling dekat dengan kehidupan sehari-hari warga. Teknologi lalu berperan sebagai pengungkit: merapikan pencatatan, mengurangi putus tindak lanjut, mempercepat rujukan saat ada tanda bahaya, membantu interpretasi data, dan membuat pemantauan menjadi berkelanjutan, bukan musiman. Gizi presisi tidak harus lahir dari gedung laboratorium. Ia bisa lahir dari sistem yang tertib, disiplin, dan mau belajar dari data lapangan.

Versi paling masuk akal untuk Indonesia bukan “semua orang dites omics”. Versi paling masuk akal adalah protokol data yang rapi, indikator yang konsisten, tenaga kesehatan yang terlatih, dan sistem umpan balik yang membuat program nasional bisa “mendengar” tubuh warganya. Program gizi yang baik bukan cuma menghitung porsi. Program gizi yang kuat adalah program yang bisa menunjukkan: intervensi ini memperbaiki respons biologis, meningkatkan fungsi, menurunkan risiko, dan tetap adil bagi populasi yang beragam. Nutrigenomics 6.0, pada akhirnya, bukan tentang gizi yang makin rumit. Ini tentang gizi yang makin cerdas, karena terus belajar—dan terus memperbaiki diri.

 

Pangan Lokal sebagai Infrastruktur Biologis: Kelor Bukan Sekadar Label “Superfood”

Di tengah kata-kata besar seperti omics, AI, dan genom, Indonesia punya modal yang jauh lebih dekat dan lebih nyata: pangan lokal. Salah satu yang paling sering disebut adalah Moringa oleifera, atau kelor. Kelor bukan sekadar tanaman “viral” di poster kesehatan. Ia adalah bahan pangan padat nutrien. Daunnya mengandung zat besi, kalsium, vitamin A, dan vitamin C. Ia juga kaya fitokimia, termasuk polifenol dan flavonoid. Senyawa ini bekerja lewat jalur antioksidan dan antiinflamasi. Dalam bahasa sederhana: kelor punya potensi untuk membantu tubuh melawan stres oksidatif dan peradangan tingkat rendah yang sering jadi akar masalah gizi buruk dan penyakit metabolik.

Karena itu, kelor sering masuk dalam percakapan pencegahan stunting dan penyakit tidak menular. Logikanya masuk akal. Stunting tidak hanya soal “kurang makan”. Stunting sering terkait kekurangan mikronutrien, infeksi berulang, kualitas asupan yang rendah, dan pemulihan biologis yang tidak optimal. Di sisi lain, penyakit tidak menular juga tidak muncul tiba-tiba. Ia dibangun pelan-pelan oleh pola makan, inflamasi kronis, dan gangguan metabolik. Kelor, bila diposisikan dengan benar, bisa menjadi salah satu alat perbaikan kualitas asupan. Bukan satu-satunya. Bukan solusi ajaib. Tetapi kandidat yang layak diuji serius.

Masalahnya, narasi “superfood” sering membuat sains terpeleset menjadi iklan. Label terdengar meyakinkan, tetapi mudah kosong. Kelor bisa jadi komoditas yang dipuja tanpa standar. Bisa jadi produk yang kualitasnya naik-turun. Bisa jadi klaim yang melampaui bukti. Di titik ini, kelor tidak butuh panggung yang lebih ramai. Kelor butuh fondasi yang lebih kuat. Ia harus melewati tahapan yang membuatnya layak masuk kebijakan publik. Standardisasi produk adalah pintu pertama. Bentuknya apa. Daunnya dari mana. Cara panennya bagaimana. Cara pengeringannya bagaimana. Kandungan nutrisinya konsisten atau tidak. Risiko kontaminasi mikroba, logam berat, atau pestisida ada atau tidak. Tanpa standar, “kelor” bisa berarti seribu hal yang berbeda.

Tahap berikutnya adalah keamanan jangka panjang dan evaluasi klinis yang rapi. Kelor harus diperlakukan sebagai intervensi, bukan sekadar bumbu. Kita perlu tahu dosis yang masuk akal. Populasi mana yang paling diuntungkan. Populasi mana yang harus hati-hati, misalnya ibu hamil dengan kondisi tertentu atau anak dengan masalah kesehatan khusus. Kita perlu ukuran hasil yang jelas, bukan sekadar testimoni. Misalnya perubahan status anemia. Perbaikan indikator pertumbuhan. Dampak pada nafsu makan dan kejadian infeksi. Efek pada biomarker sederhana yang bisa diukur rutin. Tanpa evaluasi yang tegas, kelor akan selalu berada di wilayah “katanya bagus”, padahal kebijakan publik butuh “terbukti bermanfaat”.

 Jika fondasi ini terpenuhi, barulah kelor naik kelas dari komoditas menjadi infrastruktur biologis. Ia tidak lagi berdiri sebagai poster yang cantik. Ia menjadi komponen intervensi berbasis bukti. Ia bisa ditempatkan strategis dalam program besar seperti MBG. Bukan sebagai tempelan. Sebagai bagian dari desain menu yang mengejar kepadatan mikronutrien. Ia bisa masuk ke paket edukasi layanan primer, lengkap dengan cara konsumsi yang benar, batasan yang jelas, dan pesan yang mudah dipahami keluarga. Ia bahkan bisa menjadi bahan baku pangan fungsional presisi, ketika kebutuhan mikronutrien dipetakan lebih tajam dan konteks mikrobiota ikut dipertimbangkan.

Di situlah titik temu sains dan kedaulatan pangan menjadi nyata. Kelor tidak perlu disulap menjadi mitos. Kelor cukup diperlakukan sebagai teknologi pangan lokal yang diuji dengan cara ilmiah. Jika kita menyiapkan standar, menjaga keamanan, menguji dampak, lalu memasukkan hasilnya ke pedoman menu dan edukasi digital, kelor akan berhenti menjadi sekadar label “superfood”. Ia akan menjadi bagian dari sistem kesehatan yang bekerja. Sistem yang memberi manfaat terukur. Sistem yang bisa dipertanggungjawabkan. Sistem yang terus belajar.

 

Dari Piring ke Platform, Disiplin Implementasi, Sains Tersulit

Di ruang rapat, gizi presisi terdengar sangat menjanjikan. Di lapangan, tantangannya sering lebih “membumi” dan lebih keras: disiplin implementasi. Tata kelola data yang etis dan aman. Standar keamanan pangan yang ditegakkan konsisten. Protokol interpretasi yang baku agar tenaga kesehatan tidak bingung dan masyarakat tidak tersesat. Komunikasi risiko dan ketidakpastian yang jujur—karena tidak semua temuan omics siap menjadi nasihat klinis. Evaluasi dampak yang transparan dan berkelanjutan agar program besar tidak berubah menjadi ritual tahunan.

Di Indonesia, pertaruhan besarnya bukan pada apakah ilmu ini ada—ilmu itu sudah ada dan terus tumbuh—melainkan pada apakah kita bisa membuatnya bekerja untuk jutaan orang, tanpa menjadikannya layanan eksklusif. Gizi presisi, pada akhirnya, adalah cara baru memandang pembangunan manusia. Maksudnya, tubuh warga bukan angka rata-rata, melainkan kumpulan respons biologis yang beragam.

Pada titik tertentu, pertanyaan yang akan semakin sering muncul bukan lagi “menu apa yang dibagikan”, tetapi “respons apa yang dibangun”—pada anak yang tumbuh, pada ibu yang hamil, pada mikrobiota yang menjadi mitra metabolik, pada sistem layanan primer yang menjadi penjaga garis depan, dan pada negara yang sedang menulis ulang definisi sehat di era data.

 

Catatan Khusus

Penulis berupaya mengkompilasikan sekaligus menarasikan ulang materi atau presentasi dari semua narasumber pada kegiatan daring “Indonesia Scientific Forum 2026” bertajuk “Precision Nutrition for Indonesia 6.0”, pada Ahad 25 Januari 2026, memeringati Hari Gizi Nasional, yang diselenggarakan oleh International Life Institute (ILI) bersinergi dengan lebih dari 14 mitra atau institusi dan dihadiri sekitar 234 partisipan.

"Indonesia takkan benar-benar “jaya” hanya karena piring kita penuh—melainkan karena kita tahu piring siapa yang butuh apa, kapan, dan bagaimana tubuhnya merespons. Di era gizi presisi, makanan bukan lagi sekadar kalori, melainkan bahasa biologis yang berbicara ke gen, hormon, imun, mikrobiota, hingga ritme hidup. Pertanyaannya sederhana sekaligus menantang: maukah kebijakan gizi kita turun ke level paling personal—ke tubuh manusia—agar pembangunan SDM tidak lagi mengandalkan satu resep untuk semua?"
Tautan Referensi

Kalender

Artikel Terkait