Asbes Masih Banyak Digunakan, Apa Bahayanya Bagi Kesehatan?


Asbes Masih Banyak Digunakan, Apa Bahayanya Bagi Kesehatan?

Asbes telah lama digunakan sebagai bahan bangunan karena relatif murah, kuat, dan tahan panas. Di Indonesia, bahan ini masih dapat ditemukan pada atap, plafon, pipa, sekolah, rumah, gudang, dan bangunan industri. Karena penggunaannya begitu umum, sebagian masyarakat menganggap asbes aman.

Padahal, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan International Agency for Research on Cancer (IARC) menyatakan bahwa semua jenis asbes dapat menyebabkan kanker pada manusia. WHO juga memperkirakan lebih dari 200.000 kematian setiap tahun berkaitan dengan pajanan asbes di tempat kerja. Bahaya asbes sering tidak disadari karena gangguan kesehatan dapat baru terlihat bertahun-tahun setelah pajanan.

Karena itu, masyarakat dan pekerja perlu mengetahui kapan asbes dapat melepaskan serat berbahaya, siapa yang paling berisiko, serta langkah pencegahan yang perlu dilakukan.

 

Apa itu Asbes?

Asbes adalah kelompok mineral alami yang tersusun atas serat-serat sangat halus dan kuat. Sifatnya yang tahan panas, api, dan bahan kimia membuat asbes dahulu banyak digunakan pada atap, plafon, pipa, bahan isolasi, serta berbagai produk industri.

Bahan yang mengandung asbes dapat melepaskan serat ketika rusak, lapuk, dipotong, dibor, diamplas, dipecahkan, atau dibongkar. Serat tersebut sangat kecil sehingga tidak terlihat oleh mata dan dapat melayang di udara lalu terhirup. Karena itu, material yang diduga mengandung asbes tidak boleh ditangani sembarangan.

 

Siapa yang Berisiko?

Risiko terbesar terdapat pada orang yang bekerja langsung dengan bahan mengandung asbes atau berada di lokasi yang menghasilkan debu asbes. Kelompok yang perlu lebih waspada antara lain:

  • Pekerja konstruksi yang memasang, memotong, mengebor, atau membongkar material bangunan.

  • Pekerja renovasi, pembongkaran, dan pemeliharaan gedung, terutama pada bangunan lama.

  • Pekerja pabrik yang memproduksi atau mengolah lembaran atap, plafon, pipa, atau produk lain yang mengandung asbes.

  • Pekerja galangan kapal, industri otomotif, dan industri lain yang masih memiliki bahan isolasi atau komponen lama berbahan asbes.

  • Anggota keluarga pekerja yang dapat terpajan debu dari pakaian, sepatu, atau peralatan kerja yang dibawa pulang.

  • Masyarakat di sekitar bangunan rusak atau kegiatan pembongkaran yang tidak dikendalikan dengan baik.

Besarnya risiko dipengaruhi oleh jumlah serat yang terhirup, seberapa sering dan lama pajanan terjadi, serta mutu pengendalian di tempat kerja. Tidak semua orang yang terpajan akan mengalami penyakit, tetapi risiko meningkat seiring bertambahnya pajanan.

 

Mengapa Asbes Berbahaya?

Ketika terhirup, serat asbes dapat masuk jauh ke dalam paru-paru dan sulit dikeluarkan oleh tubuh. Serat yang menetap dapat memicu peradangan dan kerusakan jaringan dalam jangka panjang.

Dampaknya tidak selalu langsung terasa. Penyakit akibat asbes umumnya memiliki masa laten yang panjang dan dapat baru muncul 10-40 tahun atau lebih setelah pajanan pertama. Inilah sebabnya seseorang dapat merasa sehat saat ini, meskipun pernah terpajan bertahun-tahun sebelumnya.

 

Apa Dampak pajanan Asbes terhadap Kesehatan?

pajanan asbes terutama dapat merusak paru-paru dan selaput paru. Beberapa penyakit yang berhubungan dengan asbes meliputi:

  1. Asbestosis

Asbestosis adalah gangguan paru yang akibat penumpukan debu yang mengandung serat asbes terperangkap di dalam kantong udara dalam paru-paru (alveoli) dan membentuk jaringan parut, sehingga paru-paru menjadi kaku.  Keluhannya dapat berupa sesak napas yang makin berat, batuk menetap, dan mudah lelah. Kerusakan yang sudah terjadi umumnya tidak dapat pulih sepenuhnya.

  1. Kanker paru

Asbes meningkatkan risiko kanker paru. Risiko menjadi jauh lebih tinggi pada orang yang terpajan asbes dan juga merokok. .

  1. Mesothelioma

Kanker ganas yang paling sering menyerang selaput paru (pleura). Kanker ini jarang, tetapi memiliki hubungan yang kuat dengan pajanan asbes.

Karena penyakit-penyakit tersebut dapat berkembang perlahan, pencegahan pajanan jauh lebih penting daripada menunggu munculnya keluhan.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Orang yang pernah atau masih bekerja dengan bahan mengandung asbes perlu memperhatikan perubahan pada pernapasan. Periksakan diri ke dokter apabila mengalami:

  • Batuk yang menetap atau tidak membaik.
  • Sesak napas, terutama jika semakin berat saat beraktivitas.
  • Nyeri dada yang tidak diketahui penyebabnya.
  • Batuk berdarah.
  • Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.
  • Keluhan pernapasan disertai riwayat pajanan asbes.

Riwayat pekerjaan sangat penting untuk disampaikan kepada dokter, termasuk jenis pekerjaan, lama bekerja, dan aktivitas yang mungkin menghasilkan debu asbes. Pekerja yang masih berisiko juga perlu mengikuti pemeriksaan kesehatan berkala melalui program kesehatan kerja, meskipun belum memiliki keluhan.

 

Bagaimana Mencegah pajanan Asbes?

Pencegahan berfokus pada mencegah serat asbes terlepas dan terhirup. Untuk masyarakat maupun pekerja, langkah yang dapat dilakukan meliputi: 

  1. Hindari merusak bahan yang mengandung asbes

Hindari memotong, mengebor, mengamplas, atau memecahkan bahan yang diduga mengandung asbes tanpa prosedur yang aman. Kegiatan tersebut dapat melepaskan serat asbes ke udara sehingga mudah terhirup.

  1. Gunakan metode kerja yang aman

Apabila harus menangani bahan yang mengandung asbes, lakukan dengan cara yang dapat mengurangi terbentuknya debu, misalnya membasahi permukaan terlebih dahulu dan menghindari penggunaan alat yang menghasilkan banyak debu.

  1. Gunakan alat pelindung diri yang sesuai

Pekerja yang berisiko terpajan perlu menggunakan alat pelindung diri yang sesuai, terutama respirator partikulat yang memenuhi standar. Penggunaan masker kain atau masker bedah tidak memberikan perlindungan yang memadai terhadap serat asbes.

  1. Jaga kebersihan diri setelah bekerja

Setelah selesai bekerja, cuci tangan dan mandi bila memungkinkan serta ganti pakaian kerja sebelum pulang. Langkah ini membantu mencegah serat asbes terbawa ke rumah dan mengurangi risiko pajanan bagi anggota keluarga.

  1. Jangan membuang limbah asbes sembarangan

Bahan atau limbah yang mengandung asbes harus ditangani dan dibuang sesuai dengan peraturan yang berlaku agar tidak mencemari lingkungan dan membahayakan masyarakat di sekitarnya.

  1. Ikuti pemeriksaan kesehatan berkala

Bagi pekerja yang berisiko terpajan asbes, pemeriksaan kesehatan berkala penting dilakukan sebagai bagian dari program kesehatan kerja untuk membantu mendeteksi gangguan kesehatan sedini mungkin.

Mencegah pajanan jauh lebih baik daripada mengobati penyakit akibat asbes. Dengan menerapkan langkah-langkah pencegahan secara konsisten, risiko gangguan kesehatan akibat pajanan asbes dapat dikurangi.

 

Peran Tempat Kerja

Tempat kerja memiliki peran penting dalam melindungi pekerja dari bahaya pajanan asbes. Upaya pencegahan tidak cukup hanya mengandalkan penggunaan alat pelindung diri, tetapi harus dimulai dengan mengurangi atau mengendalikan sumber pajanan di lingkungan kerja.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh tempat kerja antara lain:

  • Mengidentifikasi bahan yang mengandung asbes, terutama pada bangunan atau peralatan lama, sehingga dapat dilakukan penanganan yang aman.

  • Mengurangi pelepasan debu asbes, misalnya dengan menerapkan metode kerja yang aman, menggunakan ventilasi atau sistem penyedot debu yang sesuai, serta menghindari cara kerja yang menghasilkan banyak debu.

  • Menyediakan alat pelindung diri (APD) yang sesuai, seperti respirator partikulat, serta memastikan pekerja mengetahui cara menggunakan, melepas, dan merawat APD dengan benar.

  • Memberikan pelatihan kepada pekerja mengenai bahaya asbes, cara kerja yang aman, serta prosedur penanganan dan pembuangan limbah yang benar.

  • Menyediakan fasilitas kebersihan, seperti ruang ganti, tempat mencuci tangan, dan bila memungkinkan fasilitas mandi, agar serat asbes tidak terbawa pulang melalui pakaian atau peralatan kerja.

  • Melaksanakan pemantauan lingkungan dan pemeriksaan kesehatan berkala bagi pekerja yang berisiko terpajan sesuai dengan program kesehatan kerja dan ketentuan yang berlaku.

Dengan menerapkan pengendalian risiko secara menyeluruh, tempat kerja dapat mengurangi pajanan asbes dan melindungi kesehatan pekerja, sekaligus mencegah dampak terhadap keluarga dan lingkungan sekitar.

Kalender

Artikel Terkait