Pukul satu dini hari. Layar masih terang. Jari masih menggulir. Ada tugas yang “tinggal sedikit”, ada kerjaan yang “tanggung kalau ditinggal”, ada hiburan yang “satu episode lagi”. Begadang terasa seperti cara mencuri waktu tambahan dari hari yang terlalu sempit.
Masalahnya, tubuh tidak membaca jam seperti kita. Tubuh membaca ritme. Di pusat otak, ada “dirigen” kecil bernama suprachiasmatic nucleus (SCN) di hipotalamus. SCN mengatur ritme sirkadian 24 jam: kapan kita mengantuk, kapan hormon dilepas, kapan suhu tubuh turun, kapan sel memperbaiki diri, kapan sistem imun siaga, kapan metabolisme disetel ulang. Begadang membuat dirigen ini kehilangan orkestranya. Tubuh seperti dipaksa bekerja di zona waktu yang salah, berulang-ulang. Ketika ritme kacau, dampaknya bukan cuma “ngantuk besok”. Dampaknya menjalar sampai level gen, molekul, dan jaringan.
Otak: Emosi Naik, Nalar Turun
Kurang tidur memukul area yang paling sering kita andalkan untuk “menjadi manusia dewasa”: korteks prefrontal. Ini pusat fokus, kontrol emosi, perencanaan, penilaian risiko, dan kemampuan menahan impuls. Saat tidur dipotong, aktivitas prefrontal turun. Akibatnya terasa sangat sehari-hari: sulit konsentrasi, mudah terdistraksi, keputusan cepat tapi ceroboh, emosi pendek, respons berlebihan.
Di sisi lain, amigdala—pusat alarm emosi—cenderung lebih reaktif. Ketika “rem” dari prefrontal melemah, amigdala mengambil alih panggung. Itulah sebabnya orang kurang tidur sering lebih sensitif, lebih mudah tersinggung, dan lebih cepat “meledak” pada hal kecil. Bukan karena karakter memburuk, tetapi karena jaringan pengatur emosi sedang pincang.
Lalu ada dampak yang lebih senyap: memori. Tidur, terutama tidur gelombang lambat dan fase REM, adalah waktu otak menyusun arsip—menguatkan informasi penting, membuang yang tidak relevan, menyatukan pengalaman menjadi pelajaran. Begadang membuat proses konsolidasi memori ini terganggu. Anda bisa belajar lebih lama, tetapi menyerap lebih buruk. Anda bisa bekerja lebih lama, tetapi kualitas keputusan turun.
Glimfatik: Putusnya Siklus “Cuci Otak”
Saat tidur nyenyak, otak menyalakan sistem pembersihan yang disebut sistem glimfatik. Sederhananya, ini jalur pembuangan “sampah metabolik” yang menumpuk selama kita terjaga. Salah satu yang sering dibicarakan adalah beta-amiloid—protein yang terkait dengan Alzheimer.
Jika tidur dipersingkat, jam pembersihan terpotong. Bukan berarti satu malam begadang langsung memicu demensia, tetapi pola kronis membuat “sampah” lebih mudah menumpuk, dan beban biologisnya menjadi akumulatif. Otak adalah organ yang sangat mahal secara energi. Ia tidak suka berutang, tetapi ia bisa dipaksa. Dan utang itu suatu hari ditagih.
Gen Anda Ikut “Begadang”
Begadang bukan hanya persoalan kelopak mata berat. Satu malam tanpa tidur saja dapat mengubah aktivitas ratusan gen—gen terkait metabolisme, peradangan, respons imun, dan stres oksidatif. Artinya, kurang tidur mengubah cara sel membaca instruksi hidupnya.
Di hippocampus—wilayah penting untuk memori—kurang tidur kronis dalam studi hewan dikaitkan dengan penurunan BDNF (brain-derived neurotrophic factor), protein yang membantu neuron bertahan, tumbuh, dan membentuk koneksi baru. BDNF adalah “pupuk” bagi plastisitas otak. Ketika ia turun, belajar terasa lebih berat, memori lebih rapuh, dan adaptasi mental melambat.
Pada saat yang sama, stres oksidatif meningkat. Radikal bebas menjadi lebih “liar”, sementara sistem perbaikan dan antioksidan tidak mendapat jam kerja yang cukup. Ini seperti mesin yang dipaksa terus menyala, tetapi bengkel perawatannya ditutup.
Benteng Imun Retak Perlahan
Tidur adalah jam kerja penting bagi sistem imun. Saat tidur, tubuh memproduksi sitokin—protein pengatur peradangan dan pertahanan—serta mengatur ulang aktivitas sel T dan komponen imun lain. Kurang tidur dapat menurunkan sitokin protektif, melemahkan respons antibodi, dan membuat tubuh lebih mudah terserang infeksi serta lebih lama pulih.
Di beberapa riset populasi, tanda inflamasi sistemik juga terlihat berkaitan dengan penurunan fungsi kognitif. Pesannya sederhana: kurang tidur mendorong peradangan, dan peradangan mengganggu cara otak berpikir. Ini bukan drama “masuk angin”. Ini reaksi biologis yang bisa diukur.
Lebih buruk lagi, inflamasi kronis tingkat rendah—peradangan kecil yang bertahan lama—adalah “bahan bakar” bagi banyak penyakit besar: diabetes tipe 2, penyakit jantung, gangguan mood, bahkan beberapa proses degeneratif. Tubuh terus berada dalam mode siaga, seolah ada bahaya, padahal yang terjadi hanya kurang tidur yang berulang.
Lapar Menguat, Kenyang Memudar, Stres Meningkat
Begadang dan kurang tidur menggeser “setelan” hormon pengatur lapar–kenyang. Saat tidur dipangkas, leptin—hormon yang memberi sinyal “cukup, sudah kenyang” dari jaringan lemak ke otak—cenderung menurun. Pada saat yang sama, ghrelin—hormon dari lambung yang menyalakan sinyal “lapar, cari makanan” ke otak—cenderung meningkat. Otak lalu menangkap kondisi ini sebagai defisit energi, padahal seringnya yang defisit adalah tidur, bukan kalori. Akibatnya, rasa lapar terasa lebih kuat, datang lebih sering, dan lebih sulit “dipadamkan” walau sudah makan.
Yang muncul bukan sekadar “ingin makan”, tetapi ingin makanan tertentu. Kurang tidur membuat pusat kontrol nafsu makan dan sistem reward di otak lebih mudah terpancing, sehingga pilihan mengarah ke gula dan lemak (manis, gorengan, minuman berpemanis, camilan tinggi kalori). Ini diperparah karena begadang menambah jam terjaga, artinya menambah “jendela kesempatan” untuk ngemil. Kombinasi lapar yang menguat, ditambah kontrol diri yang melemah, juga akses makanan malam hari, membuat ngemil tengah malam menjadi kebiasaan. Bila berulang, pola ini pelan-pelan membentuk surplus kalori, mendorong kenaikan berat badan, dan mengacaukan ritme metabolik harian.
Di belakang layar, tubuh juga membaca kurang tidur sebagai stres biologis. Kortisol—hormon stres dari kelenjar adrenal—sering meningkat ketika tidur kurang atau ritme tidur berantakan. Kortisol yang tinggi terus-menerus dapat menaikkan tekanan darah, mengganggu kerja insulin sehingga gula darah lebih mudah naik, mempercepat “penuaan” pembuluh darah melalui peradangan dan stres oksidatif, serta membuat emosi lebih mudah tegang, gelisah, atau cepat tersulut. Jadi efeknya tidak berhenti di perut lapar, tetapi menyentuh sistem kardiometabolik dan kestabilan suasana hati.
Sementara itu, saat tidur nyenyak—terutama tidur gelombang lambat—tubuh biasanya melepas lebih banyak hormon pertumbuhan (growth hormone) untuk perbaikan jaringan, pemulihan otot, dan regenerasi sel. Ketika tidur dipotong, “waktu servis” ini berkurang. Maka muncul tanda yang sering dianggap kosmetik: kulit kusam, mata panda, wajah tampak lelah. Itu bukan sekadar estetika; itu adalah alarm biologis bahwa tubuh kurang mendapatkan fase pemulihan, sementara hormon lapar–stres sedang mendominasi.
Diabetes Bermula dari Kebiasaan Begadang
Kurang tidur menurunkan sensitivitas insulin. Sel menjadi kurang responsif terhadap insulin, gula darah lebih mudah naik, dan tubuh dipaksa bekerja lebih keras untuk menjaga keseimbangan. Bahkan pembatasan tidur beberapa malam saja dalam studi laboratorium bisa menurunkan sensitivitas insulin secara bermakna, termasuk pada jaringan lemak—level yang biasanya tampak pada kondisi obesitas atau pradiabetes.
Jika pola ini berulang, “gangguan sementara” berubah menjadi lintasan menuju resistensi insulin dan diabetes tipe 2. Ini sebabnya tidur sering disebut pilar metabolik, sejajar dengan makan dan aktivitas fisik. Tanpa tidur yang cukup, dua pilar lain pun jadi lebih sulit ditegakkan.
Jantung Protes Tanpa Bersuara
Pada tidur normal, tekanan darah turun alami di malam hari, disebut nocturnal dipping. Ini adalah waktu istirahat bagi pembuluh dan jantung. Begadang membuat “dipping” tidak optimal: tekanan darah tetap lebih tinggi, denyut jantung cenderung lebih aktif, sistem saraf simpatik (mode lawan-atau-lari) lebih sering menyala.
Dalam jangka panjang, kombinasi tekanan darah yang tidak turun, kortisol tinggi, dan inflamasi sistemik mempercepat kerusakan dinding pembuluh dan mendorong aterosklerosis. Prosesnya pelan, sering tanpa gejala, sampai suatu hari muncul sebagai hipertensi, nyeri dada, serangan jantung, stroke, atau gagal jantung.
Efek Domino di Usus, Penuaan, Reproduksi
Begadang juga menggeser komposisi mikrobiota usus—beberapa studi menemukan peningkatan profil bakteri yang terkait inflamasi dan obesitas. Karena usus dan otak terhubung lewat gut-brain axis, perubahan ini bisa memengaruhi mood, imunitas, dan metabolisme.
Di tingkat penuaan sel, kurang tidur kronis dikaitkan dalam sejumlah studi dengan peningkatan stres oksidatif dan pemendekan telomer—penanda penuaan biologis. Artinya, usia kalender boleh sama, tetapi “usia sel” bisa berbeda.
Dalam konteks sistem reproduksi, tidur memengaruhi hormon seks. Pada pria, beberapa malam kurang tidur dapat menurunkan testosteron, berdampak pada energi dan libido. Pada wanita, gangguan tidur dapat mengacak ritme hormonal yang berkontribusi pada keteraturan siklus. Pada pasangan yang merencanakan kehamilan, tidur sering diremehkan padahal ia menyentuh banyak jalur hormonal dan metabolik.
Mengantuk Setara Mabuk
Kurang tidur membuat otak masuk ke kondisi yang secara fungsional mirip “keracunan lelah”. Pusat kewaspadaan di batang otak dan jaringan perhatian di korteks bekerja lebih lambat. Mata terasa berat, fokus mudah buyar, dan pikiran seperti berkabut. Yang berbahaya, Anda bisa merasa masih mampu, padahal kemampuan otak untuk menilai risiko dan mengoreksi kesalahan justru menurun. Ini yang membuat mengantuk sering “terlihat sepele”, padahal dampaknya nyata pada performa dan keselamatan.
Microsleep adalah inti bahayanya. Ini adalah episode tidur sangat singkat, biasanya beberapa detik, terjadi tanpa disadari saat tubuh tidak mampu lagi mempertahankan terjaga. Pada momen itu, kelopak mata bisa menutup, pandangan kosong, kepala mengangguk, dan otak sejenak memutus input dari luar. Di jalan, beberapa detik ini setara dengan melaju puluhan sampai ratusan meter tanpa kendali penuh, tergantung kecepatan. Di tempat kerja, microsleep dapat terjadi saat mengoperasikan mesin, melakukan prosedur repetitif, atau menjaga monitor, sehingga satu detik lengah bisa berubah menjadi cedera serius.
Begadang menurunkan waktu reaksi, ketepatan gerak, dan kualitas keputusan. Refleks melambat, jarak pengereman jadi lebih panjang, dan kemampuan menjaga lajur atau mengikuti ritme kerja mesin menurun. Otak juga lebih mudah membuat keputusan impulsif, salah menilai jarak, serta terlambat merespons bahaya yang sebenarnya sederhana. Karena itu, begadang bukan hanya “membuat lelah”. Begadang meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas dan kecelakaan kerja, terutama pada aktivitas yang menuntut kewaspadaan stabil dan respons cepat.
Jam Biologis Gen dan Misteri Cahaya Biru
Tubuh punya jam biologis yang mengatur kapan kita mengantuk, lapar, fokus, dan kapan organ melakukan perbaikan. Jam pusatnya berada di otak, tepatnya di suprachiasmatic nucleus, yang membaca sinyal terang gelap dari mata. Di level sel, ritme ini dijalankan oleh gen jam biologis seperti CLOCK dan BMAL1 yang “menyalakan” dan “mematikan” gen lain secara berputar, lalu diseimbangkan oleh PER dan CRY sebagai rem umpan balik. Ritme ini tidak hanya soal tidur. Ritme ini mengatur denyut hormon harian, suhu tubuh, tekanan darah, metabolisme gula dan lemak, hingga cara sistem imun merespons peradangan.
Saat pola tidur bangun sering bertabrakan dengan terang gelap alami, terjadi circadian misalignment. Artinya, jam pusat dan jam di organ seperti hati, pankreas, usus, dan jaringan lemak tidak lagi sinkron. Pada pekerja shift malam, kondisi ini bisa berlangsung kronis karena tubuh dipaksa aktif saat seharusnya “mode malam”. Dampaknya sering terlihat sebagai tidur yang lebih dangkal dan mudah terbangun, rasa lelah yang menetap, dan penurunan ketajaman kognitif. Di sisi metabolik, sensitivitas insulin cenderung memburuk pada waktu yang tidak selaras, nafsu makan bisa bergeser, dan regulasi tekanan darah menjadi kurang stabil. Karena itu, pada populasi shift malam, berbagai masalah kesehatan dilaporkan lebih sering, dan salah satu jalur yang diduga kuat adalah gangguan ritme hormon serta pola ekspresi gen yang seharusnya mengikuti siklus harian.
Di era gawai, ada pemicu tambahan yang sangat umum, yaitu cahaya biru dari layar. Retina memiliki sensor cahaya khusus yang peka terhadap spektrum biru, lalu mengirim sinyal ke jam pusat bahwa “hari masih siang”. Akibatnya, produksi melatonin dari kelenjar pineal ditekan. Melatonin bukan hanya hormon yang memudahkan tidur. Melatonin juga antioksidan kuat, membantu menekan stres oksidatif, mendukung kestabilan mitokondria, dan menjadi penanda biologis bahwa tubuh masuk ke fase malam untuk pemulihan. Jika melatonin sering ditekan karena layar terang larut malam, kantuk datang terlambat, tidur menjadi kurang pulih, dan tubuh kehilangan sinyal penting untuk beralih ke mode perbaikan jaringan dan penataan ulang metabolisme.
Teknologi: Pedang Bermata Dua
Kita hidup dalam budaya dua puluh empat jam tanpa jeda. Kerja bisa muncul kapan saja melalui notifikasi. Hiburan tidak pernah habis karena algoritma selalu menyiapkan konten berikutnya. Interaksi sosial pun berpindah ke ruang digital, sehingga batas antara siang dan malam menjadi kabur. Akibatnya, begadang terasa normal, bahkan dianggap gaya hidup modern.
Di banyak lingkungan, begadang sering dipuji sebagai tanda ambisi dan produktivitas. Padahal, produktivitas yang dibangun di atas kurang tidur mirip gedung tinggi di atas fondasi rapuh. Secara kasatmata tampak berjalan, tetapi kualitas kerja mudah retak. Konsentrasi menurun, emosi lebih mudah meledak, dan keputusan menjadi kurang tajam. Yang sering tidak disadari, kesalahan kecil yang berulang justru menghabiskan waktu lebih banyak daripada “jam lembur” yang dibanggakan.
Secara medis, tidur adalah fase pemulihan aktif, bukan sekadar mati gaya. Di malam hari, otak menata ulang memori, membersihkan limbah metabolik, dan menyeimbangkan sistem stres. Tubuh mengatur ulang hormon lapar dan kenyang, sensitivitas insulin, serta respons imun. Jika tidur dipangkas, sistem perbaikan ini tidak selesai. Dampaknya bisa muncul sebagai gampang lapar, gula darah lebih tidak stabil, tekanan darah cenderung naik, dan tubuh lebih mudah meradang.
Namun teknologi tidak selalu menjadi musuh. Teknologi juga bisa menjadi cermin yang jujur. Wearable modern dapat memantau durasi tidur, pola tidur ringan dan tidur dalam, serta fase tidur yang mirip tidur mimpi. Wearable juga dapat memantau detak jantung, variabilitas denyut jantung sebagai penanda keseimbangan saraf otonom, saturasi oksigen, dan pola napas. Data ini berguna untuk mengenali pola stres, pemulihan yang buruk, dan kecurigaan gangguan tidur seperti sleep apnea yang berkaitan erat dengan hipertensi dan risiko kardiovaskular.
AI dapat menaikkan nilai data tersebut menjadi rekomendasi yang lebih personal. AI bisa melihat pola harian, misalnya kapan kafein terakhir diminum, kapan olahraga dilakukan, seberapa sering tidur siang, dan kapan paparan layar paling tinggi. Dari situ, AI dapat memberi saran yang lebih spesifik, misalnya menggeser waktu tidur bertahap, menyesuaikan jadwal cahaya pagi, atau mengatur ritme aktivitas agar jam biologis lebih stabil. Ini berbeda dari nasihat umum “tidur cepat” yang sering tidak realistis bagi orang dengan beban kerja dan kebiasaan yang kompleks.
Konsep digital twin menawarkan gambaran yang lebih jauh lagi. Digital twin adalah kembaran digital berbasis data kesehatan yang memodelkan respons tubuh terhadap kebiasaan harian. Dalam konteks tidur, ia dapat memperkirakan bagaimana pola begadang, tidur yang terputus, atau sleep apnea memengaruhi risiko metabolik dan kardiovaskular dalam jangka panjang. Tujuannya bukan menakut nakuti, tetapi membuat konsekuensi yang biasanya tidak terasa menjadi terlihat, sehingga orang lebih mudah mengambil keputusan yang benar sekarang, bukan menunggu sampai sakit.
Ironinya memang jelas. Perangkat yang membuat kita betah terjaga adalah perangkat yang sama yang bisa membantu kita kembali ke ritme sehat. Kuncinya ada pada cara pakai. Gunakan teknologi untuk menutup hari, bukan memperpanjangnya. Jadikan layar sebagai alat pengingat batas, bukan pintu masuk ke malam yang tanpa ujung. Jika teknologi dipakai sebagai pembantu ritme, bukan pengganggu ritme, maka tidur bisa kembali menjadi fondasi kuat bagi produktivitas yang benar benar tahan uji.
Tidur Akhir Pekan Tidak Selalu “Melunasi”
Banyak orang menumpuk utang tidur sepanjang hari kerja, lalu mencoba “membayar” dengan tidur sangat lama pada akhir pekan. Secara rasa, ini memang bisa membuat badan sedikit lebih segar. Namun tubuh tidak bekerja seperti rekening bank yang tinggal setor sekali lalu lunas. Tidur yang sangat panjang di Sabtu dan Minggu sering hanya menutup sebagian gejala, seperti kantuk dan lelah, tetapi tidak selalu memulihkan fungsi biologis yang terganggu selama lima hari sebelumnya.
Yang paling penting bagi jam biologis adalah konsistensi ritme, yaitu jam tidur dan bangun yang relatif stabil. Jika hari kerja Anda tidur jam dua belas malam lalu bangun jam lima, lalu akhir pekan tidur jam dua pagi lalu bangun jam sebelas, tubuh mengalami pergeseran ritme yang mirip jet lag. Akibatnya, hormon yang mengikuti pola harian, seperti melatonin, kortisol, dan insulin, menjadi tidak sinkron. Tidur panjang pun bisa terasa kurang pulih karena kualitasnya tidak selalu lebih baik, dan bangun siang membuat paparan cahaya pagi berkurang sehingga jam biologis makin sulit kembali rapi pada hari Senin.
Selain itu, beberapa dampak kurang tidur tidak pulih hanya dengan satu atau dua malam. Kurang tidur berulang dapat meningkatkan peradangan tingkat rendah, mengganggu regulasi gula, dan mengubah sinyal lapar kenyang. Di level sel, pola ekspresi gen dan sistem pemulihan jaringan juga bisa ikut berubah. Perbaikan proses seperti ini sering butuh beberapa hari hingga minggu dengan pola tidur yang konsisten, bukan hanya satu kali tidur panjang. Jadi strategi paling aman adalah memperkecil utang tidur dari awal, menjaga jam bangun tetap mirip setiap hari, dan jika perlu menambah tidur, lakukan dengan tambahan yang moderat dan terencana, bukan balas dendam yang ekstrem.
Tidur: Disiplin Hidup
Begadang sesekali saat keadaan mendesak bukan vonis. Tubuh punya kemampuan adaptasi. Yang berbahaya adalah ketika begadang menjadi gaya hidup: tidur dipangkas setiap hari, ritme sirkadian terus diguncang, lalu kelelahan dianggap normal.
Tubuh jarang langsung berteriak. Ia memberi sinyal halus: mudah lupa, cepat lapar, berat badan merayap naik, emosi lebih rapuh, sering flu, tekanan darah mulai bandel, motivasi turun, dan kecemasan lebih mudah menyala. Sinyal-sinyal ini sering disalahartikan sebagai “lagi banyak pikiran” atau “kurang olahraga”, padahal akarnya bisa dimulai dari kamar tidur.
Tidur bukan kemewahan. Ia fondasi. Saat Anda memprioritaskan tidur, Anda sedang melindungi otak agar tetap jernih, memberi jantung waktu istirahat, menenangkan badai peradangan, menyeimbangkan hormon, dan memperkuat sistem imun. Di dunia yang selalu meminta kita terjaga, memilih tidur yang cukup adalah bentuk kecerdasan—bukan kemalasan. (Dokter Dito Anurogo MSc PhD, WWPO Peace Ambassador untuk Indonesia, alumnus PhD dari IPCTRM College of Medicine Taipei Medical University Taipei Taiwan, dokter riset, dosen FKIK Unismuh Makassar, peneliti/Ilmuwan di Yayasan IMI, memiliki HAKI untuk kartu kwartet edukatif serial, master trainer dan penulis profesional berlisensi BNSP, reviewer puluhan jurnal Internasional-nasional, memiliki lebih dari 55 sertifikasi dan kompetensi multi-lintasdisiplin keilmuan, berpengalaman aktif di berbagai organisasi tingkat lokal, regional, nasional, dan internasional, telah menerbitkan puluhan buku dan ratusan opini/artikel)
Referensi
-
Akhlaghi, M., & Kohanmoo, A. (2023). Sleep deprivation in development of obesity: Effects on appetite regulation, energy metabolism, and dietary choices. Nutrition Research Reviews, 38(1), 1–64. https://doi.org/10.1017/S0954422423000264
-
AlDabal, L., & BaHammam, A. S. (2011). Metabolic, endocrine, and immune consequences of sleep deprivation. Open Respiratory Medicine Journal, 5, 31–43.
-
Besedovsky, L., Lange, T., & Haack, M. (2019). The sleep–immune crosstalk in health and disease. Physiological Reviews, 99(3), 1325–1380. https://doi.org/10.1152/physrev.00032.2018
-
Depner, C. M., Stothard, E. R., & Wright, K. P. (2019). Metabolic consequences of sleep and circadian disorders. Current Biology, 29(20), R1010–R1016. https://doi.org/10.1016/j.cub.2019.08.011
-
Fabries, P., et al. (2022). Sleep loss effects on physiological and cognitive responses. Frontiers in Physiology.
-
Garbarino, S., Lanteri, P., Durando, P., Magnavita, N., & Sannita, W. G. (2021). Co-morbidity, mortality, quality of life and the healthcare/welfare/social costs of disordered sleep: A rapid review. International Journal of Environmental Research and Public Health, 18(1), 195. https://doi.org/10.3390/ijerph18010195
-
Hong, S. H. (2025). The effect of sleep disruption on cardiometabolic health. Life, 15(1), 60. https://doi.org/10.3390/life15010060
-
Irwin, M. R. (2019). Sleep and inflammation: Partners in sickness and in health. Annual Review of Psychology, 70, 7.1–7.27. https://doi.org/10.1146/annurev-psych-010418-102842
-
Medic, G., Wille, M., & Hemels, M. E. H. (2019). Short- and long-term health consequences of sleep disruption. Nature and Science of Sleep, 11, 151–161. https://doi.org/10.2147/NSS.S134864
-
Mullington, J. M., Simpson, N. S., Meier-Ewert, H. K., & Haack, M. (2019). Sleep loss and inflammation. Sleep Medicine Reviews, 40, 1–13. https://doi.org/10.1016/j.smrv.2018.10.001
-
Pan, Y., Liu, Y., & Liu, J. (2023). Sleep deprivation and cardiometabolic risk: A systematic review. Frontiers in Public Health, 11, 1189910. https://doi.org/10.3389/fpubh.2023.1189910
-
Ragnoli, B., Pochetti, P., & Raie, A. (2022). Sleep deprivation, immune suppression and SARS-CoV-2 infection. International Journal of Environmental Research and Public Health, 19(2), 904. https://doi.org/10.3390/ijerph19020904
-
Riemann, D., Krone, L. B., Wulff, K., & Nissen, C. (2022). Sleep, insomnia, and neurodegeneration. The Lancet Neurology, 21(5), 432–444. https://doi.org/10.1016/S1474-4422(21)00324-0
-
Shan, Z., Ma, H., Xie, M., Yan, P., Guo, Y., Bao, W., et al. (2022). Sleep duration and risk of type 2 diabetes: A meta-analysis. Diabetes Care, 45(2), 381–389. https://doi.org/10.2337/dc21-1325
-
St-Onge, M. P., Grandner, M. A., Brown, D., Conroy, M. B., Jean-Louis, G., Coons, M., & Bhatt, D. L. (2019). Sleep duration and quality: Impact on lifestyle behaviors and cardiometabolic health. Circulation, 140(11), e367–e386. https://doi.org/10.1161/CIR.0000000000000709
-
Vaccaro, A., Kaplan Dor, Y., Nambara, K., et al. (2020). Sleep loss can cause death through accumulation of reactive oxygen species in the gut. Neuron, 107(5), 913–925.e3. https://doi.org/10.1016/j.neuron.2020.01.026
-
Wang, C., Bangdiwala, S. I., Rangarajan, S., et al. (2019). Association of sleep duration and cardiovascular disease and mortality. Journal of the American College of Cardiology, 73(2), 134–144. https://doi.org/10.1016/j.jacc.2018.10.069
-
Xie, L., Kang, H., Xu, Q., et al. (2019). Sleep drives metabolite clearance from the adult brain. Science Translational Medicine, 11(509), eaax3639. https://doi.org/10.1126/scitranslmed.aax3639
-
Zhang, X., Zhao, X., & Ma, J. (2021). Sleep deprivation and oxidative stress in the brain. Oxidative Medicine and Cellular Longevity, 2021, 6626887. https://doi.org/10.1155/2021/6626887
-
Zhou, X., Ma, Y., Bi, J., et al. (2022). Association between sleep duration and hypertension risk: Updated meta-analysis. Journal of Clinical Hypertension, 24(6), 684–694. https://doi.org/10.1111/jch.14463
-
Zhu, B., Dong, Y., Xu, Z., et al. (2019). Sleep disturbance induces insulin resistance and inflammation. Diabetologia, 62(5), 866–876. https://doi.org/10.1007/s00125-019-4811-9
-
Zuraikat, F. M., Makarem, N., Liao, M., et al. (2020). Sleep regularity and mortality: A prospective analysis. Proceedings of the National Academy of Sciences, 117(35), 21640–21647. https://doi.org/10.1073/pnas.1908212117