Pekan Imunisasi Dunia

Latar Belakang Pekan Imunisasi Dunia

 

Sebuah studi yang dipimpin oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan bahwa upaya imunisasi secara global selama 50 tahun terakhir telah menyelamatkan sekitar 154 juta jiwa, dimana 101 juta diantaranya adalah bayi. Angka tersebut setara dengan menyelamatkan 6 jiwa setiap menit setiap tahun. Studi ini menunjukkan bahwa imunisasi adalah kontribusi terbesar dari berbagai intervensi kesehatan lainnya untuk memastikan bayi tidak hanya merayakan ulang tahun pertama mereka tetapi juga terus menjalani kehidupan yang sehat hingga dewasa. Meskipun keberhasilan program imunisasi telah banyak terdokumentasi, namun besarnya manfaat imunisasi belum sepenuhnya diterima oleh sebagian masyarakat. Berdasarkan data global tahun 2025, sebanyak 14,3 juta anak belum mendapatkan imunisasi. Sedangkan data rutin Kemenkes Tahun 2023-2025 menunjukkan bahwa Indonesia memiliki total 2,2 juta anak yang belum mendapatkan imunisasi sama sekali (zero dose). Jika situasi ini terus dibiarkan, maka ancaman Kejadian Luar Biasa (KLB) berbagai penyakit berbahaya tidak dapat dihindari lagi. Untuk meningkatkan kembali kesadaran masyarakat dan dukungan berbagai pihak pada program imunisasi, sejak Mei 2012, World Health Assembly (WHA) telah memprakarsai Pekan Imunisasi Dunia (PID) yang diperingati pada pekan terakhir bulan April (24 – 30 April). PID menjadi momentum strategis yang dapat digunakan oleh seluruh komponen bangsa untuk meningkatkan kembali perhatian dan kepedulian masyarakat bahwa imunisasi hingga saat ini masih menjadi upaya preventif terbaik dan paling efisien dalam perwujudan kualitas kesehatan masyarakat Indonesia.

Situasi capaian program imunisasi Indonesia saat ini tidak cukup baik. Hal ini disebabkan:

  1. Tren cakupan imunisasi bayi lengkap tahun 2023-2025 cenderung menurun yaitu 95,4% pada tahun 2023; 87,8% pada tahun 2024 dan 80,2% pada tahun 2025. 

  2. Terdapat peningkatan angka anak Indonesia dengan dosis nol DPT-HB-Hib (belum lengkap atau belum menerima imunisasi dosis pertama DPT) dari 372 ribu pada tahun 2023 menjadi 951 ribu pada tahun 2025. 

  3. Terdapat peningkatan kejadian KLB PD3I pada tahun 2025 antara lain KLB Campak di 79 kab/kota di 16 provinsi; KLB Difteri di 68 Kab/Kota di 21 Provinsi; dan 283 KLB Pertusis di 131 Kab/Kota di 26 provinsi.

Beberapa tantangan yang ditemukan antara lain

  1. Kurangnya kesadaran dan pemahaman masyarakat tentang bahaya PD3I, manfaat imunisasi untuk mencegah PD3I, dan jadwal imunisasi lengkap sesuai siklus hidup.

  2. Persepsi negatif terhadap imunisasi antara lain, banyaknya rumor negatif terkait imunisasi: imunisasi tidak aman, vaksin tidak berkualitas, menyebabkan kemandulan dan autisme, takut adanya efek simpang/KIPI dan lain-lain.

  3. Keterlambatan penyediaan beberapa jenis vaksin dan manajemen pengelolaan vaksin yang kurang optimal.

  4. Keterbatasan sumber daya penganggaran dalam operasional program imunisasi 

  5. Belum meratanya kompetensi petugas imunisasi dan keterbatasan SDM karena beban ganda pekerjaan dan turn over petugas terlalu cepat

  6. Belum optimalnya koordinasi lintas program dan lintas sektor dalam pelaksanaan imunisasi.