Siklus menstruasi merupakan suatu proses fisiologis kompleks yang melibatkan siklus ovarium dan siklus endometrium. Kedua proses tersebut berlangsung secara siklik sebagai respons terhadap perubahan sekresi hormon yang diatur oleh aksis hipotalamus–pituitari–ovarium (hypothalamic–pituitary–ovarian axis/HPO axis).
Kelenjar pituitary merupakan salah satu pusat regulasi hormonal utama dalam tubuh. Pituitari berperan penting dalam mengatur pertumbuhan, metabolisme, fungsi reproduksi, serta berbagai proses fisiologis lainnya. Dalam sistem reproduksi perempuan, hipofisis menghasilkan beberapa hormon utama yang berperan dalam pengaturan siklus menstruasi, yaitu:
- Luteinizing hormone (LH): berperan dalam pematangan folikel dan memicu ovulasi serta pembentukan korpus luteum.
- Follicle-stimulating hormone (FSH): merangsang pertumbuhan dan pematangan folikel ovarium serta mendukung produksi estrogen.
- Prolaktin: terutama berperan dalam stimulasi produksi ASI. Peningkatan kadar prolaktin dapat menekan sekresi gonadotropin-releasing hormone (GnRH), sehingga mengganggu sekresi FSH dan LH serta menyebabkan gangguan ovulasi.
- Thyroid-stimulating hormone (TSH): mengatur fungsi kelenjar tiroid. Gangguan fungsi tiroid dapat memengaruhi fungsi reproduksi dan siklus menstruasi.
- Adrenocorticotropic hormone (ACTH): mengatur fungsi korteks adrenal. Perubahan fungsi aksis adrenal dapat secara tidak langsung memengaruhi keseimbangan hormon reproduksi.
Gangguan pada pituitari dapat mengganggu keseimbangan hormonal yang diperlukan untuk mempertahankan ovulasi dan siklus menstruasi yang normal, dimana kejadiana adenoma pituitari adalah sekitar 15% dari seluruh tumor intrakranial.
Pengaruh Tumor Pituitari terhadap Siklus Menstruasi
Tumor pituitari dapat menyebabkan gangguan menstruasi melalui beberapa mekanisme, bergantung pada jenis tumor, hormon yang disekresikan, ukuran tumor, serta efek massa terhadap jaringan hipofisis normal.
Gangguan menstruasi yang dapat ditemukan antara lain:
- Oligomenore
- Amenore
- Perdarahan uterus abnormal
- Gangguan ovulasi dan infertilitas
- Gejala akibat defisiensi estrogen: seperti hot flushes, perubahan suasana hati, kekeringan vagina, dan gejala lain yang menyerupai menopause.
Prolaktinoma dan Hiperprolaktinemia
Prolaktinoma merupakan adenoma pituitari yang paling sering ditemukan dan diperkirakan mencakup sekitar 50% adenoma pituitari pada perempuan, umumnya bersifat jinak dan berasal dari sel laktotrof yang memproduksi prolaktin.
Manifestasi klinis utama prolaktinoma berkaitan dengan hiperprolaktinemia. Peningkatan kadar prolaktin dapat menghambat pulsasi GnRH di hipotalamus, yang selanjutnya menyebabkan penurunan sekresi LH dan FSH. Kondisi tersebut dapat menyebabkan gangguan pematangan folikel, anovulasi, penurunan kadar estrogen, serta gangguan siklus menstruasi.
Pada perempuan, hiperprolaktinemia dapat menyebabkan oligomenore atau amenore, dengan atau tanpa galaktore. Penurunan libido dan infertilitas juga dapat terjadi. Pada laki-laki, hiperprolaktinemia dapat menyebabkan disfungsi ereksi, penurunan libido, dan infertilitas.
Pada pasien dengan gangguan menstruasi yang dicurigai berkaitan dengan tumor pituitari, evaluasi perlu mencakup anamnesis dan pemeriksaan klinis yang menyeluruh, disertai pemeriksaan hormonal sesuai indikasi, terutama kadar prolaktin dan hormon yang berkaitan dengan fungsi gonad.
Magnetic Resonance Imaging (MRI) merupakan modalitas pencitraan pilihan untuk mengevaluasi lesi pituitari dan parasellar, termasuk untuk diagnosis serta pemantauan pasien dengan adenoma pituitari, baik yang telah mendapatkan terapi maupun yang masih dalam observasi.
Agonis dopamin (dopamine agonists/DA) merupakan terapi utama pada prolaktinoma. Terapi ini efektif dalam menurunkan kadar prolaktin serum, memulihkan fungsi gonad, serta mengurangi ukuran adenoma.
Cabergoline merupakan agonis dopamin yang umumnya menjadi pilihan utama karena memiliki waktu paruh yang panjang, efektivitas yang tinggi, dan tolerabilitas yang baik. Bromokriptin dan quinagolide juga dapat digunakan, bergantung pada ketersediaan dan persetujuan penggunaannya di masing-masing negara. Kembalinya siklus menstruasi normal didapatkan pada sekitar 80% pasien pasca terapi dan cabergoline diketahui memiliki efektivitas yang lebih tinggi dibandingkan bromokriptin dalam mengontrol hiperprolaktinemia dan mengecilkan ukuran tumor. Pemantauan respons terapi menunjukkan bahwa penurunan ukuran adenoma dan kadar prolaktin terbesar terjadi dalam enam bulan pertama setelah dimulainya terapi. Tidak adanya respons yang adekuat dalam 3–6 bulan pertama dapat menjadi pertimbangan bahwa respons terhadap terapi agonis dopamin kemungkinan tidak optimal. Pada pasien yang mendapatkan cabergoline, normalisasi prolaktin dan penurunan volume tumor lebih dari 25% setelah tiga bulan terapi dapat menjadi prediktor respons jangka panjang. Waktu yang diperlukan untuk mencapai keteraturan menstruasi tidak menunjukkan hubungan yang bermakna dengan panjang siklus menstruasi, lamanya gangguan menstruasi sebelumnya, maupun kadar prolaktin awal pada pasien prolaktinoma. Efek samping cabergoline yang paling sering dilaporkan antara lain keluhan gastrointestinal, mual, muntah, dan pusing ringan.
Pilihan terapi lainnya adalah pembedahan, terutama pada kasus mikroprolaktinoma dan makroprolaktinoma yang terlokalisasi dengan baik. Reseksi tumor dapat memberikan kemungkinan remisi yang tinggi dan menghindari kebutuhan terapi agonis dopamin jangka panjang. Oleh karena itu, pilihan pembedahan dapat didiskusikan bersama terapi agonis dopamin sebagai salah satu pilihan terapi awal pada kelompok pasien yang memenuhi kriteria.
Sebaliknya, pada pasien yang bila dilakukan pembedahan, tetapi dengan kemungkinan remisi rendah, terapi medikamentosa dengan agonis dopamin umumnya menjadi pilihan awal.
Radioterapi merupakan modalitas terapi yang paling jarang digunakan pada prolaktinoma. Radioterapi umumnya dipertimbangkan apabila terapi medikamentosa dan pembedahan tidak memberikan respon yang cukup baik, yaitu padakasus prolaktinoma yang agresif atau progresif, dimana tumor terus mengalami pertumbuhan bahkan setelah terapi medikamentosa dan pembedahan. Pada kondisi yang sangat jarang, radioterapi juga dapat dipertimbangkan pada keganasan yang menghasilkan prolaktin.
Pengenalan dini terhadap gangguan menstruasi yang berkaitan dengan tumor pituitary penting untuk mencegah konsekuensi reproduksi dan hormonal jangka panjang. Pada prolaktinoma, agonis dopamin, terutama cabergoline, merupakan terapi utama yang dapat menormalkan kadar prolaktin, mengecilkan ukuran tumor, serta memulihkan fungsi gonad dan siklus menstruasi pada sebagian besar pasien. Pembedahan dan radioterapi memiliki peran pada kelompok pasien tertentu sesuai karakteristik tumor dan respons terhadap terapi.