Menyeimbangkan Pekerjaan dan Keluarga: Mengapa Kesehatan Mental Pekerja Perempuan Perlu Dijaga?


Menyeimbangkan Pekerjaan dan Keluarga:  Mengapa Kesehatan Mental Pekerja Perempuan Perlu Dijaga?

Saat ini semakin banyak perempuan berpartisipasi dalam dunia kerja dan berkontribusi di berbagai sektor. Di sisi lain, sebagian pekerja perempuan juga memiliki tanggung jawab dalam keluarga, seperti mengasuh anak, merawat anggota keluarga, atau mengelola pekerjaan rumah tangga. Menjalankan berbagai peran tersebut bukanlah masalah selama tersedia dukungan yang memadai dari keluarga, tempat kerja, dan lingkungan sekitar.

Namun, ketika tuntutan pekerjaan dan tanggung jawab di rumah sama-sama tinggi, sementara waktu, energi, atau dukungan terbatas, kondisi ini dapat menimbulkan risiko psikososial. WHO dan ILO menyebut tuntutan yang saling bertentangan antara pekerjaan dan kehidupan keluarga sebagai salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kesehatan mental pekerja. Karena itu, menjaga kesehatan mental pekerja perempuan memerlukan peran bersama dari individu, keluarga, dan tempat kerja.

 

Mengapa Menyeimbangkan Pekerjaan dan Keluarga Tidak Selalu Mudah?

Setiap orang memiliki waktu, tenaga, dan perhatian yang terbatas. Konflik antara pekerjaan dan keluarga (work-family conflict) terjadi ketika tuntutan dari salah satu peran membuat seseorang kesulitan menjalankan peran lainnya. Contohnya, seorang pekerja harus menghadiri rapat setelah begadang merawat anak yang sakit, menyelesaikan tugas sambil memikirkan kebutuhan keluarga, atau meninggalkan pekerjaan karena ada anggota keluarga yang perlu dirawat. Tantangan dapat semakin besar ketika beban tinggi tidak disertai pembagian tanggung jawab, waktu istirahat, dan dukungan yang memadai.

 

Apa Itu Risiko Psikososial di Tempat Kerja?

Risiko psikososial adalah kondisi dalam pekerjaan yang dapat mempengaruhi kesehatan dan kesejahteraan pekerja. Sumbernya dapat berupa peran yang tidak jelas, kurangnya kendali atas pekerjaan, beban kerja berlebihan, jam kerja panjang, hubungan kerja yang buruk, diskriminasi atau pelecehan, serta kurangnya dukungan dari atasan dan rekan kerja.

Kesulitan menyelaraskan pekerjaan dan kehidupan keluarga juga termasuk risiko psikososial. Risikonya meningkat ketika masalah berlangsung lama dan pekerja tidak memiliki cukup sumber daya atau dukungan untuk mengatasinya.

 

Mengapa Pekerja Perempuan Perlu Memberi Perhatian Lebih pada Risiko Psikososial?

Risiko psikososial dapat dialami oleh semua pekerja. Namun, sebagian pekerja perempuan menghadapi tuntutan tambahan karena masih memikul porsi besar dalam pengasuhan, perawatan anggota keluarga, dan pekerjaan rumah tangga. Akibatnya, waktu untuk beristirahat dan memulihkan energi dapat menjadi lebih terbatas.

Tantangan tersebut dapat bertambah bila tempat kerja memiliki beban tinggi, jam kerja panjang, fleksibilitas terbatas, atau dukungan yang kurang. Meski demikian, pengalaman setiap perempuan berbeda. Pembagian tanggung jawab yang adil di rumah serta dukungan dari atasan, rekan kerja, dan kebijakan organisasi dapat membantu mengurangi tekanan.

 

Apa Dampaknya terhadap Kesehatan Mental dan Fisik? 

Risiko psikososial yang berlangsung terus-menerus dapat berdampak pada beberapa aspek berikut:

  • Kesehatan mental, seperti stres berkepanjangan, kecemasan, suasana hati menurun, atau kelelahan emosional.

  • Kesehatan fisik, seperti gangguan tidur, sakit kepala, nyeri otot, gangguan pencernaan, dan keluhan lain yang dipengaruhi stres.

  • Kemampuan bekerja, misalnya konsentrasi dan motivasi menurun, pekerjaan lebih sulit diselesaikan, atau risiko kesalahan meningkat.

  • Kehidupan keluarga dan sosial, seperti berkurangnya waktu berkualitas serta munculnya ketegangan dengan orang terdekat.

Dampaknya dapat berbeda pada setiap orang. Karena itu, perubahan yang menetap pada emosi, kondisi tubuh, atau kemampuan menjalankan aktivitas sehari-hari perlu diperhatikan sejak dini.

 

Apa Saja Tanda-Tanda yang Perlu Diwaspadai? 

Beberapa perubahan berikut dapat menjadi tanda bahwa tekanan mulai sulit dikelola:

  • Merasa kewalahan, cemas, sedih, atau mudah tersinggung hampir setiap hari.
  • Tidur terganggu atau bangun tanpa merasa segar.
  • Energi dan semangat menurun, termasuk untuk aktivitas yang biasanya disukai.
  • Sulit berkonsentrasi, mudah lupa, atau lebih sering melakukan kesalahan.
  • Menarik diri dari keluarga, teman, atau rekan kerja.
  • Keluhan fisik berulang, seperti sakit kepala, nyeri otot, atau gangguan pencernaan.
  • Merasa tidak mampu membagi waktu dan menjalankan tanggung jawab sehari-hari.

Satu atau dua tanda yang muncul sesekali belum tentu menunjukkan masalah kesehatan mental. Hal yang perlu diperhatikan adalah bila perubahan tersebut menetap, semakin berat, atau mulai mengganggu pekerjaan, hubungan, dan aktivitas sehari-hari.

 

Kapan harus mencari bantuan?

Pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila keluhan berlangsung selama dua minggu atau lebih, semakin berat, tidak membaik meskipun sudah beristirahat, atau mulai mengganggu pekerjaan, perawatan diri, dan hubungan dengan orang lain. Bantuan juga perlu dicari ketika seseorang merasa tidak mampu menghadapi tekanan sendiri atau kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai.

Apabila muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau merasa hidup tidak lagi berarti, segera cari pertolongan melalui tenaga kesehatan atau pelayanan kegawatdaruratan. Penanganan sejak dini dapat mencegah kondisi menjadi lebih berat.

 

Bagaimana Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Tuntutan Pekerjaan dan Keluarga? 

Beberapa langkah berikut dapat membantu mengelola tuntutan sehari-hari: 

  1. Tentukan prioritas

Pilih hal yang paling penting dan realistis untuk diselesaikan. Tidak semua tugas harus dilakukan pada waktu yang sama atau dengan hasil yang sempurna.

  1. Bagi tanggung jawab dan komunikasikan kebutuhan

Bicarakan pembagian tugas dengan pasangan atau anggota keluarga. Di tempat kerja, sampaikan kendala kepada atasan atau rekan kerja bila situasi memungkinkan.

  1. Sediakan waktu untuk pulih

Sisihkan waktu untuk tidur, beristirahat, beraktivitas fisik, melakukan hobi, atau berinteraksi dengan orang yang memberi dukungan.

  1. Jaga kebiasaan sehat

Tidur cukup, makan bergizi, aktif bergerak, serta menghindari rokok dan konsumsi alkohol berlebihan dapat membantu tubuh menghadapi tekanan.

  1. Kenali batas kemampuan diri

Belajarlah menolak tambahan beban yang tidak realistis dan meminta bantuan sebelum merasa sangat kewalahan.

  1. Cari dukungan saat diperlukan

Bicarakan kondisi dengan orang yang dipercaya atau tenaga kesehatan. Mencari bantuan merupakan bagian dari menjaga kesehatan, bukan tanda kelemahan.

 

Peran tempat kerja?

Tempat kerja tidak hanya membantu pekerja mengelola stres, tetapi juga perlu mengurangi sumber risiko psikososial. Upaya yang dapat dilakukan antara lain:

  • Menilai dan mengelola beban kerja, jam kerja, serta pembagian tugas secara wajar.

  • Membangun budaya kerja yang saling menghargai dan bebas dari diskriminasi, perundungan, maupun pelecehan.

  • Melatih atasan agar mampu berkomunikasi, mendengarkan kebutuhan pekerja, dan memberikan dukungan yang tepat.

  • Menyediakan kebijakan yang mendukung kehidupan keluarga, seperti fleksibilitas kerja bila memungkinkan dan cuti sesuai ketentuan.

  • Memberikan edukasi kesehatan mental serta menjamin bahwa pekerja dapat mencari bantuan tanpa stigma atau diskriminasi.

  • Menyediakan akses ke pelayanan kesehatan kerja, konseling, atau rujukan profesional apabila tersedia.

  • Kebijakan yang baik perlu diterapkan secara adil dan disertai budaya kerja yang mendukung. Dengan demikian, pekerja tidak hanya diminta untuk lebih kuat menghadapi tekanan, tetapi juga memperoleh lingkungan kerja yang lebih sehat.

 

Menyeimbangkan pekerjaan dan keluarga dapat menjadi tantangan bagi sebagian pekerja perempuan, terutama ketika tuntutan tinggi tidak disertai waktu, pembagian tanggung jawab, dan dukungan yang memadai. Kondisi tersebut dapat berkembang menjadi risiko psikososial yang mempengaruhi kesehatan, kemampuan bekerja, dan kehidupan keluarga.

Mengenali tanda awal, menjaga kebiasaan sehat, membagi tanggung jawab, dan mencari bantuan saat diperlukan merupakan langkah penting. Namun, kesehatan mental bukan hanya tanggung jawab individu. Dukungan keluarga dan pengendalian risiko psikososial oleh tempat kerja juga diperlukan agar pekerja dapat menjalankan perannya secara sehat dan berkelanjutan.

Kalender

Artikel Terkait