Dukungan Gizi pada Anak dengan Kanker


Dukungan Gizi pada Anak dengan Kanker

Mengapa Gizi Penting pada Anak dengan Kanker?

Saat anak menjalani pengobatan kanker, tubuhnya bekerja dengan sangat keras. Selain melawan sel kanker, tubuh anak juga perlu untuk pulih dari efek kemoterapi, radiasi, dan atau operasi. Karena itu, asupan gizi yang cukup sangat penting. Perjalanan gizi anak menentukan keberhasilan pengobatan dan peluang dari kesembuhan anak.

  1. Membantu anak lebih kuat menjalani terapi

Pengobatan kanker sering menimbulkan mual, muntah, sariawan, diare, dan nafsu makan menurun. Jika asupan makan kurang dalam waktu lama, daya tahan tubuh melemah dan risiko infeksi meningkat.

Anak dengan status gizi yang baik umumnya lebih mampu menerima terapi, lebih jarang mengalami komplikasi, dan lebih cepat pulih.

  1. Berpengaruh pada keberhasilan pengobatan

Pengobatan kanker sering menimbulkan mual, muntah, sariawan, diare, dan nafsu makan menurun. Jika asupan makan kurang dalam waktu lama, daya tahan tubuh melemah dan risiko infeksi meningkat.

Anak dengan status gizi yang baik umumnya lebih mampu menerima terapi, lebih jarang mengalami komplikasi, dan lebih cepat pulih. 

  1. Tubuh anak membutuhkan energi lebih

Kanker dan proses pengobatannya dapat meningkatkan kebutuhan energi dan protein. Jika tidak tercukupi, tubuh akan mengambil cadangan dari otot dan lemak, sehingga anak bisa menjadi lemah dan mengalami penurunan berat badan.

  1. Mendukung tumbuh kembang dan kesehatan jangka panjang 

Meski sedang sakit, anak tetap berada dalam masa pertumbuhan. Asupan yang cukup membantu menjaga pertumbuhan, kekuatan tulang, serta kesehatan jantung dan metabolisme di masa depan.

 

Prinsip Pemenuhan Gizi Selama Pengobatan

Tujuan dukungan gizi pada anak dengan kanker adalah mencegah penurunan berat badan berlebihan (wasting), mengatasi atau mencegah malnutrisi, menjaga pola makan tetap baik, mempertahankan massa tubuh ideal, mendukung pertumbuhan, serta meningkatkan kualitas hidup anak selama dan setelah terapi.

Bagaimana pengaturan untuk diet kanker pada anak?

  1. Biasakan makan seimbang dengan asupan kalori dan protein yang cukup.

  2. Batasi makanan tinggi gula dan kalori kosong seperti kue, minuman bersoda, dan makanan cepat saji. Kurangi juga makanan dengan banyak pengawet dan pewarna buatan.

  3. Perbanyak makanan nabati seperti kacang-kacangan kanera memiliki kandungan anti-kanker

  4. Batasi makanan tinggi lemak jenuh (tidak lebih dari 3–4 kali per minggu).

  5. Pilih sumber lemak sehat omega-3 seperti ikan (salmon, tuna) dan minyak zaitun atau kanola.

  6. Konsumsi sayur dan buah kaya antioksidan minimal 5 porsi sehari, seperti wortel, tomat, anggur, brokoli, dan lain-lain

  7. Cukupi asupan kalsium dan vitamin D dari susu, yoghurt, telur, atau ikan.

  8. Gunakan bumbu alami seperti bawang putih dan kunyit saat memasak karena memiliki antioksidan tinggi

  9. Tetap lakukan aktivitas fisik ringan, seperti berjalan kaki 30–45 menit per hari jika kondisi memungkinkan.

 

Selain memperhatikan jenis makanan, orang tua juga perlu memahami cara memilih dan mengolah makanan yang aman selama anak menjalani terapi. Berikut panduan praktisnya:

Efek Terapi Kanker dan Pengaruh Dietnya

Berbagai pengobatan kanker sering menimbulkan efek samping yang mempengaruhi nafsu makan dan kemampuan anak untuk makan. Oleh karena itu, pola makan perlu disesuaikan dengan kondisi yang dialami anak agar kebutuhan gizinya tetap terpenuhi selama menjalani terapi. Berikut penyesuaian agar kebutuhan gizi anak tetap terpenuhi sesuai kondisinya.

  1. Nafsu makan menurun

    1. Berikan makan dalam porsi kecil tapi sering
    2. Pilih makanan yang tinggi energi dan protein, seperti smoothies dengan yoghurt, buah, dan selai kacang
    3. Sajikan makanan yang disukai anak
    4. Sajikan makanan dalam keadaan hangat agar lebih menggugah selera
    5. Hindari makanan manis sebelum makan karena dapat membuat lebih cepat kenyang
    6. Hindari makanan berlemak (jeroan, gajih, dan lain-lain) dan berbumbu tajam (cabai, merica)
    7. Minum sebaiknya 30 menit setelah makan
  1. Mual dan muntah

    1. Berikan makan dalam porsi kecil tapi sering

    2. Pilih makanan dingin atau biarkan makanan dingin dahulu karena lebih mudah ditoleransi daripada makanan hangat

    3. Biarkan anak menghisap es batu, permen, atau potongan buah lunak karena dapat merangsang produksi air liur yang membantu mencegah mulut kering

    4. Hindari makanan panas, pedas, berbau tajam, terlalu manis, dan berbau pekat

    5. Jangan langsung berbaring setelah makan, tunggu setidaknya setengah jam

    6. Hindari minum terlalu banyak sebelum makan karena akan membuat perut terasa penuh

    7. Pilih makanan yang lebih kering dengan kuah dipisah agar tidak memicu mual, karena makanan yang terlalu lembek atau berkuah sering kali membuat rasa mual semakin terasa

    8. Sebaiknya makan terlebih dahulu sebelum terapi

    9. Kumur sebelum dan sesudah makan 

  1. Sariawan

    1. Hindari makanan yang asam, pedas, atau asin

    2. Hindari makanan dengan tekstur kasar

    3. Pilih makanan yang lunak, lembut, atau cair

  1. Mulut kering

    1. Makan makanan yang mengandung air dan makanan yang dibekukan seperti es krim

    2. Makan dapat disertai minum agar lebih mudah ditelan 

    3. Minum dapat dibantu dengan menggunakan sedotan

  1. Mulut sakit

    1. Berkumur dengan air untuk mengurangi rasa sakit

    2. Menambahkan krim atau susu ke makanan asam untuk membuat lebih lembut (seperti puding dengan buah)

    3. Hindari makanan sangat asin atau pedas

    4. Hindari makanan dan minuman yang terlalu panas

    5. Hindari makanan keras dan dapat melembutkan makanan seperti biskuit dicelupkan ke teh, susu, atau sup

  1. Perubahan atau hilangnya pengecapan

    1. Bilas mulut dengan air setiap sebelum makan

    2. Makan buah-buahan yang sedikit asam seperti jeruk dan lemon tetapi tidak disarankan jika ada sariawan

    3. Makan dalam porsi kecil tapi sering

  1. Konstipasi/sembelit

    1. Makan makanan berserat seperti buah, sayuran, kacang-kacangan, dan gandum utuh

    2. Minum air secukupnya (8-10 gelas/hari)

    3. Pastikan anak sarapan setiap hari untuk membantu melancarkan proses pencernaan

    4. Lakukan aktivitas ringan yang dapat mempercepat pergerakan usus

    5. Jika secara alami masih tetap tidak bisa BAB, konsultasikan dengan dokter

  1. Diare

    1. Makanan diberikan dalam porsi kecil tapi sering

    2. Perbanyak minum untuk mencegah kekurangan cairan dan elektrolit

    3. Hinadri makanan yang mengandung pemanis

    4. Memilih makanan dengan serat rendah seperti labu siam dan gambas

    5. Hindari makanan yang menimbulkan gas seperti kol, kembang kol, durian, nangka, dan lain-lain

    6. Hindari minuman berkafein seperti teh dan kopi dan minuman yang asam seperti yoghurt

Kalender

Artikel Terkait