Resolusi 2026: Anti-Stress Di Tempat Kerja, Berikut Rekomendasi WHO


Resolusi 2026: Anti-Stress Di Tempat Kerja, Berikut Rekomendasi WHO

Mendekati pergantian tahun 2025, biasanya orang-orang akan membuat resolusi untuk dicapai pada tahun berikutnya. Resolusi ini biasanya akan menjadi reminder bagi mereka yang punya tujuan jelas mau melakukan apa demi perubahan hidup yang lebih baik. Ada yang mendambakan punya berat badan ideal, hidup lebih aktif, kehidupan sosial yang lebih nyaman, serta mendapatkan jodoh, pekerjaan, atau bahkan sehat lahir batin aja. 

Sebagai individu dewasa, jatah 24 jam sehari, setengahnya digunakan untuk bekerja. Rata-rata durasi kerja produktif di indonesia, sekitar 7-8 jam dalam sehari, 5 kali dalam seminggu. Selama itu pula, kita cenderung menghabiskan waktu bersosialisasi dengan rekan kerja di tempat kerja. 

Semua orang mendambakan pekerjaan yang sempurna, tanpa embel-embel drama di dalamnya. Namun, perlu dicatat bahwa tidak ada pekerjaan yang ideal dimanapun. Pasti ada saja faktor yang membuat kamu merasa kurang, baik itu jenis pekerjaannya, pimpinan, rekan kerja, gaji/upah, lokasi kerja dan faktor lainnya. Apalagi dalam berhubungan sosial, bentrok dengan sesama manusia pasti tidak bisa dihindari. Oleh karena itu, kita perlu menoleransi beberapa hal yang sekiranya kita sanggup untuk menghadapinya.

Tahukah kamu, beberapa fakta tentang kesehatan mental di setting tempat kerja? Dikutip dari world health organisation (WHO)

  • Lingkungan kerja yang buruk – termasuk diskriminasi dan ketidaksetaraan, beban kerja berlebihan, kontrol pekerjaan yang rendah, dan ketidakpastian pekerjaan – membahayakan kesehatan mental.
  • Secara global, diperkirakan 12 miliar “hari kerja” hilang setiap tahun akibat depresi dan kecemasan, dengan biaya US$ 1 triliun per tahun akibat penurunan produktivitas.

 

Supaya kamu tidak menjadi bagian dari data diatas, hal pertama yang harus kamu lakukan adalah mengidentifikasi apakah kamu pernah merasakan hal-hal berikut:

  • penggunaan keterampilan yang kurang optimal atau kurangnya keterampilan yang sesuai untuk pekerjaan;
  • beban kerja berlebihan atau tempo kerja yang terlalu cepat, kekurangan tenaga kerja;
  • jam kerja yang panjang, tidak fleksibel, atau tidak sesuai dengan jam kerja normal;
  • kurangnya kontrol atas desain pekerjaan atau beban kerja;
  • kondisi kerja fisik yang tidak aman atau buruk;
  • budaya organisasi yang memfasilitasi perilaku negatif;
  • dukungan yang terbatas dari rekan kerja atau pengawasan yang otoriter;
  • kekerasan, pelecehan, atau perundungan;
  • diskriminasi dan pengucilan;
  • peran pekerjaan yang tidak jelas;
  • promosi yang kurang atau berlebihan;
  • ketidakpastian pekerjaan, gaji yang tidak memadai, atau investasi yang buruk dalam pengembangan karier; dan
  • tuntutan yang bertentangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

 

Jika ya, kamu perlu melakukan tindakan pencegahan agar memproteksi diri sendiri dari gangguan mental serius yang bisa saja memengaruhi kesejahteraan-mu. Untuk melindungi kesehatan mental, WHO merekomendasikan:

  • Pelatihan bagi pimpinan dalam bidang kesehatan mental, yang membantu pimpinan mengenali dan merespons bawahan yang mengalami gangguan emosional; mengembangkan keterampilan interpersonal seperti komunikasi terbuka dan mendengarkan aktif; serta meningkatkan pemahaman tentang bagaimana faktor stres pekerjaan memengaruhi kesehatan mental;
  • pelatihan bagi pekerja dalam literasi dan kesadaran kesehatan mental, untuk meningkatkan pengetahuan tentang kesehatan mental dan mengurangi stigma terhadap kondisi kesehatan mental di tempat kerja; dan
  • intervensi bagi individu untuk membangun keterampilan dalam mengelola stres dan mengurangi gejala kesehatan mental, termasuk intervensi psikososial dan kesempatan untuk aktivitas fisik berbasis rekreasi.

 

Semoga di tahun 2026, kamu dapat meminimalisir berbagai macam gangguan di tempat kerja. Tidak dapat dipungkiri bahwa namanya kerja pasti ada saja dinamika yang terjadi dan hal itu sangatlah wajar. Kita tidak bisa mengontrol perilaku orang lain ke kehidupan kita, tapi kita bisa membentengi perasaan dan diri kita dengan mengabaikan hal-hal yang sekiranya tidak penting.

Beberapa saran praktis kalau lagi stress di tempat kerja seperti mengambil cuti, cut-off orang-orang yang bikin kamu tidak nyaman, berteman dengan rekan kerja sewajarnya dan tidak terlibat ikatan emosional, berani mengutarakan pendapat dan perasaan, hingga bersikap bodo amat untuk hal yang tidak jelas. Jika sekiranya kamu sudah benar-benar tidak mampu menghandle situasi, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional kesehatan mental seperti psikolog atau psikiater. Semoga kamu tetap sehat dan bahagia di tahun mendatang ya!  

Tautan Referensi

Kalender

Artikel Terkait