Tumor Pituitari: Kecil Ukurannya, Besar Perannya!


Tumor Pituitari: Kecil Ukurannya, Besar Perannya!

Kelenjar pituitari mungkin masih terdengar asing bagi sebagian orang. Ukurannya memang sangat kecil, kira-kira sebesar kacang polong, dan letaknya tersembunyi di dasar otak.

Namun, jangan tertipu oleh ukurannya. Kelenjar pituitari memiliki peran yang sangat besar dalam mengatur berbagai hormon di dalam tubuh.

Hormon yang diatur oleh kelenjar ini berhubungan dengan banyak fungsi penting, mulai dari pertumbuhan, metabolisme, menstruasi dan kesuburan, fungsi seksual, produksi ASI, hingga respons tubuh terhadap stres.

Lalu, apa yang terjadi jika tumbuh tumor pada kelenjar yang kecil ini?

APA ITU TUMOR PITUITARI?

Tumor pituitari adalah pertumbuhan sel yang tidak normal pada kelenjar pituitari atau hipofisis. Sebagian besar tumor pituitari bersifat jinak atau bukan kanker.

Namun, istilah “jinak” bukan berarti tumor tersebut boleh diabaikan. Tumor pituitari tetap dapat tumbuh, menghasilkan hormon secara berlebihan, atau mengganggu fungsi normal kelenjar pituitari. Jika ukurannya semakin besar, tumor juga dapat menekan struktur penting di sekitarnya.

Tumor pituitari dapat menimbulkan masalah terutama melalui dua mekanisme: gangguan hormon dan efek penekanan karena ukuran tumor.

GEJALA APA YANG PERLU DIKENALI?

Gangguan penglihatan

Kelenjar pituitari berada sangat dekat dengan jalur saraf penglihatan. Ketika tumor membesar ke arah atas, tumor dapat menekan jalur tersebut.

Salah satu gangguan yang dapat terjadi adalah berkurangnya lapang pandang dari sisi kanan dan kiri. Seseorang dapat menjadi lebih sering tidak menyadari adanya benda atau orang yang berada di sampingnya.

Gangguan ini dapat berkembang perlahan sehingga seseorang terkadang baru menyadarinya setelah penglihatannya cukup terganggu.

Inilah salah satu alasan penting untuk tidak menunggu tumor menjadi besar sebelum diperiksa.

Sakit kepala

Sebagian pasien dengan tumor pituitari juga mengalami sakit kepala. Namun, perlu diingat bahwa sakit kepala sangat umum dan sebagian besar sakit kepala bukan disebabkan oleh tumor pituitari.

Sakit kepala perlu mendapat perhatian terutama apabila menetap, semakin berat, atau muncul bersama gejala lain seperti gangguan penglihatan atau perubahan hormon.

 

GEJALA AKIBAT GANGGUAN HORMON

Menstruasi menjadi tidak teratur atau berhenti

Salah satu gejala yang dapat dialami perempuan dengan tumor pituitari adalah perubahan siklus menstruasi. Menstruasi dapat menjadi tidak teratur atau bahkan berhenti pada perempuan yang masih berada dalam usia reproduktif.

Salah satu penyebabnya adalah kadar hormon prolaktin yang terlalu tinggi. Prolaktin memiliki fungsi penting, terutama dalam produksi ASI. Namun, kadar prolaktin yang terlalu tinggi di luar kondisi normal dapat mengganggu hormon yang mengatur menstruasi dan kesuburan.

Keluar ASI padahal tidak sedang menyusui

Produksi ASI di luar masa kehamilan atau menyusui dapat menjadi salah satu tanda meningkatnya hormon prolaktin. Kondisi ini dapat terjadi pada perempuan maupun laki-laki.

Jika terjadi tanpa penyebab yang jelas, terutama bila disertai perubahan menstruasi, penurunan gairah seksual, atau gangguan kesuburan, sebaiknya konsultasikan dengan dokter.

Penurunan gairah seksual atau gangguan fungsi seksual

Gangguan hormon akibat tumor pituitari juga dapat memengaruhi fungsi seksual, baik pada laki-laki maupun perempuan.

Pada laki-laki, misalnya, gangguan hormon dapat menyebabkan penurunan gairah seksual atau gangguan ereksi. Pada sebagian pasien, gangguan kesuburan dapat menjadi alasan awal untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Perubahan berat badan dan bentuk tubuh

Beberapa jenis tumor pituitari dapat menghasilkan hormon tertentu secara berlebihan. Akibatnya, perubahan pada tubuh dapat muncul secara perlahan.

Pada kondisi tertentu, berat badan dapat meningkat terutama di bagian tubuh tertentu dan wajah dapat tampak semakin bulat.

Pada jenis tumor lainnya, tangan, kaki, atau bagian wajah dapat perlahan membesar. Ukuran sepatu atau cincin dapat bertambah. Kondisi ini dapat terjadi pada akromegali, yaitu keadaan akibat kelebihan hormon pertumbuhan.

Karena perubahan tersebut berlangsung perlahan, pasien maupun keluarga terkadang tidak langsung menyadarinya.

Mudah lelah dan tubuh terasa lemas

Kelenjar pituitari membantu mengatur beberapa hormon yang sangat penting untuk fungsi tubuh sehari-hari. Jika produksi hormon normal terganggu, seseorang dapat merasa lebih mudah lelah, lemas, atau tidak bertenaga.

Keluhan seperti ini sangat umum dan dapat disebabkan oleh banyak penyakit lain. Namun, bila muncul bersama beberapa gejala yang mengarah pada gangguan hormon, pemeriksaan lebih lanjut mungkin diperlukan.

 

BAGAIMANA MENGETAHUI APAKAH ADA TUMOR PITUITARI?

Tumor pituitari tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan gejala. Dokter akan menentukan pemeriksaan berdasarkan keluhan dan kondisi masing-masing pasien.

Pemeriksaan hormon

Pemeriksaan darah dapat dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat hormon yang terlalu tinggi atau justru terlalu rendah. Pemeriksaan dapat meliputi prolaktin; kortisol dan pemeriksaan fungsi adrenal yang sesuai; TSH dan FT4; IGF-1 bila terdapat kecurigaan akromegali; serta pemeriksaan hormon lainnya sesuai gejala dan kondisi pasien.

Pemeriksaan mata dan lapang pandang

Jika terdapat gangguan penglihatan atau hasil MRI menunjukkan tumor berdekatan dengan jalur saraf penglihatan, dokter dapat melakukan pemeriksaan mata dan lapang pandang.

MRI

MRI kepala dengan protokol yang sesuai dapat membantu dokter melihat keberadaan tumor, ukuran tumor, serta hubungannya dengan struktur penting di sekitarnya.

Ketiga hal tersebut—gejala, pemeriksaan hormon, dan pemeriksaan pencitraan—perlu dinilai secara bersama-sama.

 

KALAU ADA TUMOR PITUITARI, APAKAH PASTI HARUS OPERASI?

Tidak selalu.
Tidak semua tumor pituitari harus dioperasi. Penanganan ditentukan secara individual berdasarkan jenis tumor, ukuran, fungsi hormon, gejala, hubungan tumor dengan saraf penglihatan dan struktur penting lainnya, serta respons terhadap pengobatan.

Pemantauan berkala
Tumor yang kecil dan tidak menimbulkan gangguan hormon, gangguan penglihatan, atau gejala lain yang memerlukan tindakan dapat dipantau secara berkala dengan pemeriksaan klinis, hormon, dan MRI sesuai kebutuhan.

Obat-obatan
Pada jenis tumor tertentu, obat justru merupakan pilihan utama. Contohnya adalah prolaktinoma, yaitu tumor pituitari yang menghasilkan hormon prolaktin secara berlebihan.

Obat golongan agonis dopamin, terutama cabergoline, umumnya menjadi terapi utama dan dapat menurunkan kadar prolaktin serta membantu mengecilkan ukuran tumor pada banyak pasien. Obat lain seperti bromocriptine dapat digunakan pada kondisi tertentu.

Operasi
Operasi dapat dipertimbangkan apabila tumor menekan atau mengancam saraf penglihatan; terdapat gangguan penglihatan akibat tumor; tumor menyebabkan masalah lain karena ukurannya; tumor tertentu tidak dapat dikendalikan dengan obat; tumor terus tumbuh atau menimbulkan gejala yang memerlukan tindakan; atau terdapat kondisi tertentu yang menyebabkan operasi menjadi pilihan terbaik berdasarkan jenis dan karakteristik tumor.

Pada banyak tumor pituitari yang memerlukan operasi, tindakan dilakukan melalui operasi endoskopi melalui hidung dan sinus menuju daerah pituitari, yang dikenal sebagai endoscopic endonasal transsphenoidal surgery.

Dengan pendekatan ini, dokter dapat mencapai tumor melalui jalur alami dari hidung menuju dasar tengkorak, tanpa perlu membuka tulang tengkorak seperti pada operasi otak konvensional.

Namun, tidak semua tumor pituitari memerlukan operasi dan tidak semua tumor dapat ditangani dengan pendekatan yang sama. Keputusan operasi perlu dibuat berdasarkan evaluasi masing-masing pasien oleh tim yang berpengalaman.

Radioterapi
Pada kondisi tertentu, radioterapi dapat menjadi bagian dari pengobatan, misalnya pada tumor yang masih tersisa atau tumbuh kembali setelah terapi sebelumnya dan tidak dapat dikendalikan dengan operasi atau obat.

 

JADI, KAPAN HARUS OPERASI?

Pertanyaan ini sering muncul setelah seseorang mengetahui bahwa dirinya memiliki tumor pituitari.

Jawabannya bukan semata-mata berdasarkan “berapa sentimeter ukuran tumornya”.

Dokter akan melihat beberapa hal sekaligus: apakah tumor mengganggu penglihatan, apakah tumor menghasilkan hormon secara berlebihan, apakah fungsi hormon normal terganggu, apakah tumor terus bertumbuh, apakah obat masih efektif, dan apakah tumor menekan struktur penting di sekitarnya.

Karena itu, tumor yang besar belum tentu harus langsung dioperasi, sementara tumor yang lebih kecil pun dapat memerlukan tindakan bila menimbulkan masalah tertentu.

Yang paling penting adalah jangan menunggu sampai tumor menjadi besar dan menimbulkan gangguan penglihatan atau gangguan fungsi tubuh yang lebih berat.

Semakin awal tumor dikenali, semakin banyak kesempatan untuk melakukan evaluasi dan menentukan pilihan penanganan yang sesuai dengan kondisi pasien.

 

KAPAN SEBAIKNYA MEMERIKSAKAN DIRI?

Tidak perlu langsung menganggap setiap sakit kepala atau perubahan berat badan sebagai tanda tumor pituitari. Banyak kondisi lain yang jauh lebih sering menyebabkan keluhan tersebut.

Namun, jangan abaikan perubahan tubuh yang menetap atau tidak biasa.

Pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan dokter apabila mengalami:

  • penglihatan dari sisi kanan atau kiri mulai berkurang;
  • menstruasi menjadi tidak teratur atau berhenti tanpa penyebab yang jelas;
  • keluar ASI padahal tidak sedang hamil atau menyusui;
  • penurunan gairah seksual atau gangguan fungsi seksual yang menetap;
  • perubahan bentuk wajah, tangan, atau kaki secara perlahan;
  • ukuran sepatu atau cincin semakin besar tanpa sebab yang jelas;
  • perubahan berat badan yang tidak biasa; atau
  • sakit kepala yang menetap atau semakin berat, terutama bila disertai gangguan penglihatan atau gejala lainnya.

Tidak perlu menunggu gejala menjadi berat untuk memeriksakan diri.

Tumor pituitari memang berada di bagian tubuh yang tidak dapat kita lihat. Namun, perubahan yang ditimbulkannya sering kali dapat dikenali dari tubuh kita sendiri.

Dengan mengenali gejala lebih awal, kita dapat mencari pertolongan medis lebih cepat dan mendapatkan pemeriksaan yang sesuai.

Jangan tunggu sampai tumor besar. Jangan tunggu sampai penglihatan terganggu.

Kenali gejalanya.
Periksa lebih awal.
Dapatkan penanganan yang tepat.
Karena deteksi dini memberikan lebih banyak kesempatan untuk menentukan pilihan penanganan yang sesuai.

Kalender

Artikel Terkait