Latar Belakang Hari Tuberkulosis Sedunia
TB adalah penyakit yang dapat dicegah dan disembuhkan. Namun, lebih dari 10 juta orang terus jatuh sakit dan 1 juta orang meninggal karena TB setiap tahunnya. Situasi ini menuntut tindakan yang mendesak dan komprehensif untuk mengakhiri epidemi TB global pada tahun 2030, sebuah target yang telah disepakati oleh seluruh negara anggota PBB dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Tanpa pengobatan, tingkat kematian akibat penyakit TB cukup tinggi, yaitu mendekati 50%. Dengan pengobatan yang saat ini direkomendasikan oleh WHO (paduan obat anti-TB selama 4-6 bulan), sekitar 90% pasien TB dapat disembuhkan. Regimen 1-6 bulan tersedia untuk mengobati infeksi TB. Cakupan kesehatan universal (UHC) diperlukan untuk memastikan bahwa semua orang yang membutuhkan pengobatan untuk penyakit atau infeksi TB dapat mengakses pengobatan ini. Jumlah orang yang tertular dan mengembangkan penyakit (dan pada gilirannya jumlah kematian yang disebabkan oleh TB) juga dapat dikurangi melalui tindakan multisektoral untuk mengatasi faktor-faktor penentu TB seperti kemiskinan, kekurangan gizi, infeksi HIV, merokok dan diabetes.
TB masih menjadi tantangan serius dalam sistem kesehatan masyarakat, baik di Indonesia maupun secara global. Laporan Global Tuberculosis Report (GTR) tahun 2025 menempatkan Indonesia sebagai negara dengan beban TB tertinggi kedua di dunia setelah India, dengan estimasi 1.080.000 kasus baru. Meskipun berbagai upaya telah dilakukan, indikator utama program TB nasional, seperti angka penemuan dan keberhasilan pengobatan kasus, masih belum mencapai target yang ditetapkan hingga tahun 2024.
Pemerintah Indonesia telah menetapkan target ambisius untuk menurunkan angka insidensi TB menjadi 190 per 100.000 penduduk pada tahun 2030. Untuk mencapai target ini, akses terhadap diagnosis dini dan pengobatan yang adekuat menjadi sangat krusial.
Hari TB Sedunia atau HTBS, diperingati setiap tanggal 24 Maret, merupakan momen penting dalam upaya global untuk meningkatkan kesadaran tentang TB dan menggalang dukungan untuk mengakhiri epidemi ini. TB tetap menjadi salah satu penyakit menular yang paling mematikan di dunia. Sejak penemuan Mycobacterium tuberculosis oleh Robert Koch pada tahun 1882, kemajuan dalam diagnosis dan pengobatan TB telah berkembang pesat. Namun, tantangan besar masih ada, termasuk peningkatan kasus TB yang resisten terhadap obat, ketidaksetaraan dalam akses terhadap pengobatan, serta stigma yang melekat pada pasien dan orang terdampak TB. Oleh karena itu, HTBS hadir untuk meningkatkan perhatian publik dan komunitas kesehatan terhadap upaya yang dibutuhkan untuk mengeliminasi TB sebagai ancaman kesehatan global.
Tujuan
- Menyebarluaskan informasi tentang TB kepada seluruh lapisan masyarakat agar meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat tentang pencegahan penularan, pemeriksaan dan pengobatan TB yang berkualitas.
- Menyebarluaskan informasi tentang TB kepada seluruh lapisan masyarakat untuk menghilangkan stigma TB.
- Menempatkan TB sebagai isu utama semua sektor di setiap tingkatan.
- Mendorong semua pihak termasuk mitra dan kelompok masyarakat untuk melakukan upaya baru yang inovatif dalam Program Penanggulangan TB.
- Meningkatkan pemahaman dan aksi atas pentingnya investigasi kontak terintegrasi Terapi Pencegahan TB (TPT) dalam mencegah dan memutus penularan TB.
- Meningkatkan penemuan kasus TB melalui peningkatan kegiatan skrining aktif TB pada kelompok risiko tinggi dan tempat khusus, optimalisasi kegiatan investigasi kontak, serta .penguatan kerjasama fasyankes pemerintah dan swasta atau public private mix.
- Meningkatkan keberhasilan pengobatan melalui inovasi dalam mendukung psikososial dan ekonomi pasien TB, berkolaborasi dengan komunitas, lembaga masyarakat dan multisektor.