Tema Hari Tuberkulosis Sedunia
Tema Global
Tema global dari Hari Tuberkulosis Sedunia 2026 yang ditetapkan oleh Stop TB Partnership adalah “Yes! We Can End TB. Led by [ … ]. Powered by [ … ]” Tema ini menekankan kepemimpinan negara (country leadership) di mana Penanggulangan TB kini diposisikan sebagai tanggung jawab yang dimiliki, dipimpin, dan didanai di tingkat nasional.
Meskipun dipimpin negara, keberhasilannya didorong oleh sinergi berbagai pihak, mulai dari komunitas, penyintas, pemuda, peneliti, hingga sektor swasta dan lembaga donor. Pesan Kunci dari tema ini adalah menurunkan angka TB bukan lagi soal "mungkin atau tidak mungkin", melainkan soal kepemimpinan dan investasi yang nyata. Tema tahun ini bersifat fleksibel agar negara atau organisasi dapat menyesuaikan fokus masing-masing.
Tema Nasional
Indonesia mengambil peran kepemimpinan dengan menetapkan tema nasional "SATU TB: Sinergi Aksi Tuntaskan TB". Tema ini menekankan pentingnya kolaborasi, menegaskan bahwa pencapaian Eliminasi TB 2030 bukanlah tugas sektor kesehatan semata. Penanggulangan TB di Indonesia harus dipimpin oleh negara dan digerakkan secara masif oleh sinergi lintas program, lintas sektor, organisasi profesi, hingga elemen masyarakat terkecil di tingkat desa dan kelurahan.
Sub-tema 1: Sinergi Aksi Tuntaskan TB dengan Percepatan Penemuan Kasus
Sebagai langkah awal untuk memutus mata rantai penularan, sinergi pertama difokuskan pada percepatan penemuan kasus secara aktif dan komprehensif. Upaya jemput bola ini dilakukan melalui integrasi skrining TB ke dalam program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di instansi pemerintah, tempat kerja, sekolah, pesantren, lapas/rutan, hingga komunitas. Pelacakan atau investigasi kontak juga dilakukan lebih agresif dengan melibatkan kader dan Desa/Kelurahan Siaga TB. Setiap terduga TB akan diperiksa sesuai standar, di mana hasil bakteriologis negatif dan kontak serumah wajib ditindaklanjuti dengan pemeriksaan Rontgen (X-ray). Selanjutnya, pasien akan diberikan Terapi Pencegahan TB (TPT) maupun Obat Anti TB (OAT) secara tepat sasaran, yang seluruh prosesnya wajib dicatat dan dipantau secara real-time melalui Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB).
Sub-tema 2: Sinergi Aksi Tuntaskan TB dengan Pengobatan Sampai Sembuh
Setelah kasus ditemukan, perjuangan dilanjutkan melalui sinergi untuk memastikan pengobatan sampai sembuh. Pasien TB tidak boleh berjuang sendirian karena pengobatan membutuhkan waktu dan kedisiplinan tinggi. Oleh karena itu, setiap pasien dipastikan memiliki Pengawas Menelan Obat (PMO) yang mendampingi secara melekat, baik dari unsur keluarga, tenaga kesehatan, kader, maupun relawan. Dukungan ini diperkuat dengan kehadiran nyata negara melalui bantuan sosial-ekonomi lintas sektor, seperti penyediaan makanan tambahan, bantuan biaya transportasi ke fasilitas layanan kesehatan, hingga program renovasi rumah bagi pasien dan keluarganya yang membutuhkan.
Sub-tema 3: Sinergi Aksi Tuntaskan TB dengan Penghentian Stigma dan Diskriminasi
Upaya medis dan sosial akan berjalan optimal jika didampingi oleh sinergi untuk menghentikan stigma dan diskriminasi. Stigma sering kali lebih melumpuhkan karena menghambat pasien untuk mencari pertolongan medis sejak dini. Dengan menggandeng para tokoh masyarakat dan tokoh agama, kampanye bahwa "TB bisa sembuh dan pengobatan gratis" terus digaungkan untuk menumbuhkan lingkungan yang aman bagi pasien dan keluarganya. Semangat ini turut diperkuat melalui penyebaran pesan edukasi TOSS TB (Temukan TB, Obati, Sampai Sembuh) secara masif. Melalui kerja sama dengan Dinas Komunikasi dan Informatika serta sektor terkait lainnya, materi promosi kesehatan ini disebarluaskan di media sosial, media massa, videotron, transportasi publik, hingga ke pelosok desa.
Sub-tema 4: Sinergi Aksi Tuntaskan TB dengan Pencegahan Penularan melalui Pemberian TPT
Kegiatan ini berfokus pada upaya memutus rantai penularan TB di tengah masyarakat melalui optimalisasi Terapi Pencegahan TB (TPT). Pelaksanaannya bertumpu pada pemberdayaan masyarakat melalui penguatan kapasitas tenaga kesehatan, kader dan optimalisasi peran Desa/Kelurahan Siaga TB guna memastikan seluruh kontak dari pasien TB yang terbukti tidak sakit TB langsung mendapatkan TPT serta pendampingan penuh hingga tuntas minum TPT. Selain itu, edukasi dan penyebarluasan informasi kepada masyarakat luas mengenai peran krusial TPT sebagai perisai perlindungan dalam mencegah infeksi dan penyebaran TB juga penting untuk dilakukan karena penerimaan TPT masih rendah hingga saat ini.